-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Indeks Berita

Tag Terpopuler

[refleksiiman] Salib, Lambang Cinta yang Mengubah Hidup

Selasa, 16 September 2025 | September 16, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-09-15T16:55:53Z
SALIB, LAMBANG CINTA YANG MENGUBAH HIDUP

Salib adalah simbol paling dikenal dalam iman Kristiani, namun kita tak boleh melupakan asal-usulnya yang kelam. Pada zaman Romawi, salib adalah alat eksekusi paling kejam yang digunakan untuk menghina dan menghancurkan manusia. Namun, dalam kasih-Nya yang tak terbatas, Yesus (Putra Allah) memilih jalan ini: jalan penderitaan, penghinaan, dan kematian, untuk menebus dosa kita.

Dengan kebangkitan-Nya, Ia mengubah simbol kehinaan menjadi lambang kemenangan atas maut dan dosa. Memandang salib berarti memandang kasih Allah yang total, Allah yang rela turun sedalam-dalamnya ke jurang penderitaan manusia untuk mengangkat kita. Seperti kata Santo Paulus:

"Kami memberitakan Kristus yang disalibkan, yang untuk orang Yahudi adalah batu sandungan dan untuk orang Yunani kebodohan, tetapi bagi kita, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah" (1 Korintus 1:23-24).

Salib mengajarkan kita bahwa jalan keselamatan bukanlah jalan pintas, melainkan jalan pengorbanan dan kerendahan hati. Setiap penderitaan, ketidakadilan, atau luka yang kita alami, jika disatukan dengan salib Kristus, bisa menjadi sarana penebusan dan pengharapan.

Sejarah Pesta Pemuliaan Salib Suci: Dari Kehinaan ke Kemuliaan

Pesta Pemuliaan Salib Suci yang dirayakan setiap 14 September bukan sekadar peringatan simbolis, tetapi mengingatkan kita pada karya keselamatan Allah yang nyata dalam sejarah. Asal-usul perayaan ini berakar pada dua peristiwa penting:

Penemuan Salib oleh St. Helena (abad ke-4)

St. Helena, ibu Kaisar Konstantinus Agung, melakukan ziarah ke Yerusalem sekitar tahun 326. Dalam penggaliannya, ia menemukan kayu salib yang diyakini sebagai Salib Kristus. Penemuan ini menjadi momen sukacita besar bagi umat Kristen, karena salib yang dahulu simbol kematian kini dipandang sebagai alat keselamatan.

Peresmian Basilika Makam Kudus (335) dan Pengembalian Salib oleh Kaisar Heraklius (628)

Kaisar Konstantinus membangun Basilika Makam Kudus di Yerusalem untuk menghormati tempat penyaliban, pemakaman, dan kebangkitan Kristus. Peresmian dilakukan pada 13 September 335, dan keesokan harinya (14 September), Gereja merayakan pesta khusus untuk memuliakan Salib. Pada abad ke-7, ketika Salib sempat dirampas oleh bangsa Persia, Kaisar Heraklius berhasil mengembalikannya ke Yerusalem pada tahun 628. Peristiwa ini memperkuat makna Salib sebagai tanda kemenangan Allah atas kegelapan.

Dengan demikian, Salib bukan sekadar benda sejarah, melainkan pengingat hidup akan kasih Allah yang terus bekerja dalam dunia dari masa lalu hingga kini.

Makna Bacaan Hari Ini Tentang Salib

Bacaan-bacaam hari Minggu ini, 14 September mengungkapkan makna mendalam Salib sebagai pusat iman Kristiani.

Bacaan Pertama dari Bilangan 21:4-9 menekankan Salib sebagai Tanda Keselamatan.

Kisah ular tembaga di padang gurun adalah tipologi (gambaran awal) dari salib. Umat Israel yang memberontak digigit ular-ular berbisa, lalu diselamatkan dengan memandang ular tembaga yang ditinggikan Musa. Bukan kekuatan magis ular itu yang menyembuhkan, melainkan iman mereka kepada sabda Allah.

Demikian pula, salib Kristus adalah tanda keselamatan yang memberi pengharapan. Di tengah dunia yang dipenuhi "racun": hoaks, kebencian, keserakahan, dan ketidakadilan, kita diajak kembali memandang salib untuk disembuhkan. Salib bukan sekadar ornamen di dinding, melainkan pusat penyembuhan rohani yang mengubah keputusasaan menjadi harapan.

Bacaan kedua dari Filipi 2:6-11 menekankan Salib sebagai Jalan Kerendahan Hati

Paulus mengajak kita merenungkan kerendahan hati Kristus:

"Walaupun dalam rupa Allah, Ia tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa hamba..." (Filipi 2:6-7).

Kristus taat sampai mati di salib, dan justru karena kerendahan hati-Nya, Allah meninggikan Dia. Dunia modern sering mengagungkan kekuasaan, popularitas, dan pencitraan diri. Namun, Pesta Salib Suci mengingatkan kita: kemuliaan sejati lahir dari pengorbanan dan pelayanan. Dalam keluarga, pekerjaan, atau pelayanan sosial, kita dipanggil untuk "mengosongkan diri": melepaskan ego, melayani tanpa pamrih, dan memilih jalan kerendahan hati agar Allah semakin berkarya dalam hidup kita.

Sedangkan dalam bacaan Injil dari Yohanes 3:13-17 menekankan Salib sebagai Ungkapan Kasih Allah

Yesus bersabda: "Seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:14-15).

"Kenaikan" Yesus di salib bukan hanya kematian, tetapi juga kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga, suatu kesatuan karya keselamatan. Allah tidak mengutus Anak-Nya untuk menghukum dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. D

i tengah krisis global: perang, ketegangan sosial, dan perubahan iklim, banyak orang merasa Allah jauh. Namun, bacaan ini menegaskan: Allah hadir dan bekerja demi keselamatan dunia. Kita dipanggil menjadi saksi kasih-Nya melalui solidaritas, kepedulian pada yang lemah, dan usaha aktif membangun perdamaian.

Menghidupi Salib dalam Kehidupan Sehari-hari

Berdasarkan renungan ini, kita diajak untuk:

Pertama, Memandang dengan Iman

Setiap kali membuat tanda salib, kita diingatkan akan kasih Allah yang menyentuh seluruh hidup---pikiran, hati, dan tindakan. Di tengah kegelapan, salib menjadi sumber penyembuhan dan pengharapan. Jangan lihat salib hanya sebagai simbol, tapi jadikan ia pusat iman yang mengubah keputusasaan menjadi kepercayaan.

Kedua, Menghidupi Kerendahan Hati

Salib bukan hanya dilihat, tetapi dihidupi. Pengorbanan kecil: kesabaran saat diuji, melayani tanpa mengharap pujian, atau memaafkan yang menyakiti, itulah bentuk "memikul salib". Seperti Kristus, kita diajak merendahkan diri agar Allah semakin memuliakan hidup kita.

Ketiga, Menjadi Saksi Kasih Allah

Di tengah dunia yang menolak nilai Injil, kita dipanggil untuk berani menjadi saksi. Melalui tindakan nyata, membantu sesama yang terluka, mendoakan musuh, atau terlibat dalam perdamaian, kita membawa kabar keselamatan. Salib adalah tanda kemenangan, dan kita dipercaya untuk memancarkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Refleksi Akhir

Salib bukan sekadar lambang sejarah, melainkan kehidupan yang mengalir; mengajak kita untuk mengubah penderitaan menjadi harapan, kerendahan menjadi kemuliaan, dan kegelapan menjadi terang. Hari ini, mari kita rayakan Salib dengan hidup yang mencerminkan kasih Allah yang tak pernah gagal.

×
Berita Terbaru Update