-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Baru 28,5% Masyarakat Mau Menggunakan Asuransi, Begini Keluhan DAI Hingga AAUI

Minggu, 19 Oktober 2025 | Oktober 19, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-10-25T07:30:48Z

, DENPASAR – Otoritas Jasa Keuangan mencatat baru 28,50% masyarakat yang mau menggunakan produk asuransi pada 2025. Jauh tertinggal dari perbankan yang mencapai 70,65%.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi perasuransian baru 45,45%. Meski demikian, capaian ini membaik dari posisi sebelumnya 36,9%, sementara indeks inklusi berada pada level 28,50%. Meski sangat mini, capaian itu tumbuh dari 12,12% pada periode sebelumnya.

Indeks literasi dan indeks inklusi asuransi merupakan dua indikator penting yang digunakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengukur sejauh mana masyarakat memahami dan memanfaatkan produk asuransi. Indeks literasi asuransi menggambarkan tingkat pengetahuan, pemahaman, serta keyakinan masyarakat terhadap fungsi dan manfaat asuransi sebagai instrumen perlindungan keuangan. Sementara itu, indeks inklusi asuransi menunjukkan seberapa banyak masyarakat yang telah memiliki atau menggunakan produk asuransi, baik asuransi jiwa, kesehatan, maupun umum.

Ketua Dewan Asuransi Indonesia (DAI) Yulius Bhayangkara menyebut memperkenalkan dan memasyarakatkan pentingnya berasuransi masih menjadi tantangan, terutama karena tingkat pemahaman masyarakat mengenai asuransi yang masih perlu peningkatan. Pasalnya peningkatan terjadi terdorong dengan gaya hidup digital.

“Kami meyakini bahwa literasi asuransi bukan hanya tentang mengenalkan produk, tetapi juga memberikan pemahaman yang benar mengenai pentingnya perlindungan keuangan melalui asuransi," kata Yulius dikutip Minggu (19/10/2025).

Dia pun mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengetahui, tetapi juga memiliki produk asuransi dan merasakan langsung manfaatnya. Dengan demikian, kepercayaan masyarakat terhadap asuransi sebagai instrumen proteksi dapat terus tumbuh, sehingga semakin banyak keluarga dan pelaku usaha yang terlindungi dari risiko di masa depan.

Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Budi Herawan menjelaskan asuransi bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan sudah menjadi kebutuhan dasar masyarakat untuk menghadapi risiko yang dapat terjadi kapan saja, seperti bencana alam maupun kecelakaan.

"Kami mengajak seluruh elemen dan pemangku kepentingan serta insan perasuransian untuk terus aktif memberikan edukasi yang menyentuh langsung masyarakat agar mereka tidak hanya memahami, tetapi juga memiliki produk asuransi dan merasakan manfaatnya," kata Budi.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga September 2025 industri asuransi memiliki total aset Rp1.169,64 triliun, tumbuh 3,30% (YoY).

Dari sisi asuransi komersial, aset tercatat sebesar Rp948,4 triliun atau meningkat 3,99% (YoY), dengan pendapatan premi Januari–Juli 2025 sebesar Rp194,55 triliun atau naik 0,77%(YoY).

Premi asuransi jiwa tercatat Rp103,42 triliun atau terkontraksi 0,84% (YoY), sementara premi asuransi umum dan reasuransi tumbuh 2,67% (YoY) dengan nilai Rp91,13 triliun. Pada Juli 2025, total klaim asuransi komersial tercatat sebesar Rp110,12 triliun, turun 6,92% dibandingkan periode yang sama tahun 2024 sebesar Rp118,30 triliun. Klaim asuransi jiwa tercatat sebesar Rp74,59 triliun, mengalami penurunan 9,93% dari Rp82,82 triliun tahun sebelumnya. Sementara itu, klaim asuransi umum justru meningkat sebesar 2,07%, dari Rp28,11 triliun pada Juli 2024 menjadi Rp28,69 triliun pada Juli 2025.  Adapun klaim reasuransi turun 7,19%, dari Rp7,37 triliun menjadi Rp6,84 triliun.

Sementara itu, industri Asuransi Syariah pada kinerja Juli 2025 menunjukkan kinerja positif, hingga Juli 2025 dengan total aset mencapai Rp47,94 triliun, tumbuh 5,58% (YoY), dari Rp45,40 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Total kontribusi juga meningkat menjadi Rp15,56 triliun atau naik 5,41% (YoY). Dari sisi investasi, industri asuransi syariah berhasil mencatat pertumbuhan 5,22% YoY, meningkat dari Rp35,73 triliun pada Juli 2024 menjadi Rp37,59 triliun pada Juli 2025. Sedangkan total klaim asuransi syariah tercatat sebesar Rp3,79 triliun, naik tipis 2,16% YoY.

×
Berita Terbaru Update