-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Daya Tarik Abu Dhabi Kota Bahagia di Dunia

Kamis, 16 Oktober 2025 | Oktober 16, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-10-20T05:00:02Z

ABU Dhabi dinobatkan sebagai kota paling bahagia di dunia 2025 berdasarkan hasil survey Time Out Index. Survey ini menilai tingkat kepuasan warga terhadap kualitas hidup, kebersamaan komunitas, dan kebutuhan pribadi. Kota di Uni Emirat Arab (UEA ini terletak di sebuah pulau yang menjorok ke Teluk Persia. Selain sebagai ibu kota, Abu Dhabi sekaligus menjadi emirat terbesar di antara tujuh emirat yang membentuk negara tersebut.

Di bawah Abu Dhabi, empat kota lain yang masuk lima besar adalah Medellín, Cape Town, Mexico City, dan Mumbai. Sementara itu, Beijing, Shanghai, Chicago, Seville, dan Melbourne melengkapi daftar sepuluh besar.

Pemeringkatan daftar kota bahagia ini didasarkan pada tanggapan positif warga terhadap lima indikator kebahagiaan. Termasuk tingkat kebahagiaan secara umum, keterikatan sosial di lingkungan tempat tinggal, serta sejauh mana kota mereka berkontribusi terhadap kebahagiaan dan kesejahteraan sehari-hari.

Sejarah Abu Dhabi

Dilansir dari Britannica , Abu Dhabi berawal dari permukiman kecil di pesisir Teluk Persia pada 1761, ketika suku Al Bu Falah dari konfederasi Banu Yas menetap di wilayah tersebut. Kota ini awalnya bergantung pada perdagangan kecil dan industri mutiara, namun mengalami kemunduran setelah munculnya mutiara budidaya dari Jepang dan krisis ekonomi 1929.

Perubahan besar terjadi setelah ditemukannya ladang minyak pada 1958 dan dimulainya produksi komersial pada 1962. Abu Dhabi menjadi pusat ekonomi baru di kawasan Teluk. Modernisasi kota semakin pesat di bawah kepemimpinan Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan sejak 1966, melalui pembangunan infrastruktur dan fasilitas publik berskala besar.

Sejak ditetapkan sebagai ibu kota Uni Emirat Arab pada 1971—dan menjadi permanen pada awal 1990-an—Abu Dhabi terus berkembang sebagai pusat pemerintahan, bisnis, dan pariwisata. Kini, kota ini dikenal sebagai simbol kemakmuran dan kemajuan UEA dengan proyek-proyek ikonik, maskapai nasional Etihad Airways, serta kawasan modern yang berstandar internasional.

Budaya Abu Dhabi

Sebagai jantung budaya Uni Emirat Arab (UEA), Abu Dhabi tak hanya dikenal karena kemegahan arsitektur dan kemajuan ekonominya. Tapi juga karena kekayaan tradisi yang berpadu dengan nilai-nilai Islam yang kuat, dilansir dari Holidify . Abu Dhabi menjadi salah satu destinasi wisata dunia berkat investasi besar pemerintah di sektor pariwisata, mulai dari taman luas hingga berbagai fasilitas rekreasi modern.

Namun, semua kemajuan ini tetap berpijak pada nilai-nilai Islam yang mendasari kehidupan masyarakatnya. Warga dari berbagai negara disambut dengan hangat selama mereka menghormati norma dan harmoni sosial yang berlaku di sana.

Sopan santun menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Misalnya, membunyikan musik keras di mobil mewah dianggap tidak pantas. Para pria umumnya tidak berjabat tangan dengan perempuan dan menggantinya dengan salam Islami sambil meletakkan tangan di dada sebagai bentuk penghormatan.

Kegiatan seperti safari gurun, tari perut, hingga puisi Arab klasik masih menjadi bagian dari kehidupan seni setempat. Kaligrafi Arab diajarkan secara luas, mencerminkan kecintaan masyarakat terhadap seni dan bahasa. Dalam hal busana, pria mengenakan dishdasha dengan penutup kepala gutra, sedangkan wanita mengenakan abaya hitam dan sheyla sebagai simbol kesopanan.

Kuliner di Abu Dhabi menawarkan keragaman rasa dari seluruh dunia — mulai dari masakan Italia hingga India. Namun, hidangan lokal tetap menjadi daya tarik utama. Beberapa di antaranya seperti Harees (bubur gandum dan daging), Makboos (nasi berbumbu dengan daging ayam, kambing, atau udang), Salona (sup daging dan sayuran berempah), dan Madrooba (seafood dengan roti pipih). Jajanan kaki lima seperti falafel dan shawarma menjadi favorit karena rasanya yang lezat dengan harga terjangkau.

Pendapatan besar dari minyak dan mutiara mendorong pembangunan gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan, serta kawasan hunian megah. Beberapa kemegahan arsitektur Abu Dhabi dapat dilihat pada Emirates Palace Hotel, sementara Yas Viceroy Hotel menjadi ikon desain futuristik dengan struktur kaca dan lampu LED yang memukau di malam hari. Di sisi lain, Masjid Agung Sheikh Zayed menampilkan keindahan arsitektur Islam dengan kaligrafi Al-Qur’an dan lampu gantung kristal Swarovski yang megah.

Abu Dhabi merayakan beragam festival—dari perayaan keagamaan seperti Idul Fitri hingga acara budaya modern seperti Abu Dhabi Festival, Abu Dhabi Film Festival, dan Hari Nasional UEA. Kombinasi antara tradisi dan inovasi ini menjadikan kota ini panggung global bagi seni, musik, dan film.

Annisa Nur Alimah berkontribusi dalam penulisan artikel ini
×
Berita Terbaru Update