Ratusan ikan lele , patin , dan nila dilepas ke perairan buatan itu . Di balik kegiatan sederhana tersebut , tersimpan pesan besar tentang bagaimana ketahanan pangan dan keseimbangan ekosistem bisa tumbuh dari langkah kecil yang berkelanjutan .
Dari Air untuk Pangan Berkelanjutan
Direktur Ketahanan Pangan Otorita IKN, Setia Lenggono , menyebut penebaran ikan ini sebagai bentuk intervensi ekologis yang produktif . Ikan-ikan tersebut bukan hanya akan memperkaya sumber pangan protein hewani , tetapi juga menjadi bagian dari rantai ekosistem air yang sehat .
“Kami ingin memastikan bahwa setiap embung di Nusantara tidak hanya berfungsi menampung air, tapi juga menjadi sumber kehidupan bagi warga dan lingkungan . Karena pangan yang berkelanjutan harus berpihak pada alam ,” ujarnya .
Langkah serupa akan dilakukan di embung lain dengan sistem zonasi , membedakan antara ikan konsumsi dan ikan konservasi , termasuk jenis endemik Kalimantan.
Teknologi dan Edukasi Lingkungan di Tengah Pembangunan Ibu Kota
Program ini tidak berhenti pada pelepasan ikan. Sebelum kegiatan berlangsung , Otorita IKN melakukan pengukuran kualitas air — mulai dari suhu , pH, hingga adaptasi ( aklimatisasi ) ikan agar sesuai dengan kondisi setempat .
Pendekatan ilmiah ini sekaligus menjadi bentuk edukasi bagi masyarakat dan pegawai Otorita IKN untuk memahami pentingnya pengelolaan perikanan yang ramah lingkungan . “Kita ingin masyarakat belajar bahwa membangun kota baru bukan berarti mengabaikan alam ,” tambah Lenggono .
IKN Menuju Kota yang Tumbuh Bersama Alam
Inisiatif seperti ini memperlihatkan arah pembangunan IKN yang berbeda dari kota-kota besar lain. Bukan sekadar kota administrasi , tetapi juga kota yang hidup bersama alam . Embung-embung yang tersebar di kawasan KIPP akan menjadi laboratorium alam untuk menjaga sumber pangan , air, dan keanekaragaman hayati .
Melalui program penebaran ikan ini , Otorita IKN memperkuat pesan bahwa ketahanan pangan di Nusantara lahir dari harmoni antara teknologi , masyarakat , dan alam .