-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bos Google Ingatkan Dunia tentang Bahaya AI

Kamis, 20 November 2025 | November 20, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-22T09:05:15Z

Warta Bulukumba - Ruangan penuh server berpendar biru—seperti jantung elektronik dunia modern—AI bekerja tanpa henti, memproses jutaan permintaan manusia per detik. Di balik dengungannya, bayangan teknologi yang semakin cerdas itu terasa hidup, seolah ia sedang belajar menafsirkan dunia lebih cepat dari para penciptanya sendiri.

Namun, di tengah kilatan algoritma yang tampak nyaris sempurna, retakan-retakan kecil masih mengintai: jawaban yang menyimpang, gambar yang keliru, asumsi yang sesat.

Dari tempat lain—dalam wawancara di studio BBC —Sundar Pichai memandang langsung ke kamera, seakan berbicara kepada siapa pun yang kini menggantungkan harapan pada kecerdasan buatan. Suaranya tegas mengiris riuh euforia global.

AI bisa membantu banyak hal, ya.

Tapi mempercayainya sepenuhnya?

“Itu,” katanya, “justru yang paling berbahaya.”

Di balik ketenangannya, CEO Google itu berbicara dengan nada yang lebih menyerupai peringatan seorang ilmuwan ketimbang optimisme seorang pebisnis teknologi. Dunia kini sedang tergila-gila pada kecerdasan buatan—dan Pichai memilih untuk menginjak rem.

Perkembangan AI sedang melaju seperti lokomotif tanpa rem: raksasa teknologi menumpahkan hampir USD 400 miliar per tahun untuk mengamankan posisi di industri yang bergerak lebih cepat dari perkiraan siapa pun. Di Silicon Valley, grafik valuasi yang menanjak itu membuat banyak orang kembali teringat pada gelembung dot-com. Bedanya, kali ini bahan bakarnya adalah kecerdasan buatan yang kian menembus setiap aspek hidup manusia.

Namun Pichai justru meminta publik untuk berhenti sejenak.

"Pengguna harus belajar memakai alat ini untuk hal yang memang ia kuasai,” ujarnya tenang. "Jangan percaya begitu saja pada apa pun yang dikatakan AI. Teknologi ini masih rentan salah.”

Ia menyebutnya bukan sebagai ancaman, melainkan realitas yang harus dihadapi: mesin yang bisa menulis cerita, menyusun esai, hingga membuat kode komputer, tetap dapat tergelincir pada bias, misinformasi, atau sekadar kekeliruan teknis yang tak terduga.

Gemini 3.0 akan segera meluncur

Di saat yang sama, Google tengah bersiap meluncurkan Gemini 3.0, generasi baru model AI yang diperkirakan meluncur akhir tahun ini. Namun sejarah yang membayangi versi sebelumnya masih segar.

Pada 2023, Gemini sempat menjadi bahan olok-olok dunia maya karena dianggap “terlalu berhati-hati”—model ini dinilai gagal menampilkan representasi historis dengan tepat, menghasilkan gambar-gambar yang keliru hingga memicu kritik global.

Kini, pihak keamanan data menyorongkan sorotan lain. Gugatan yang diajukan di pengadilan federal California menuduh Google mengizinkan Gemini menyadap informasi pengguna secara diam-diam, melalui Gmail, layanan chat, hingga konferensi video.

Tuduhan yang, bagi sebagian orang, terasa seperti batu sandungan baru di tengah ambisi raksasa teknologi itu menyiapkan asisten digital paling canggih sejauh ini.

Gelembung AI: Tak ada yang kebal, termasuk Google

Di tengah lonjakan teknologi—dan kegilaan pasar modal yang menyertainya—Pichai menyampaikan pengakuan yang jarang keluar dari mulut seorang pemimpin industri sebesar Google.

“Saya rasa tidak ada perusahaan yang kebal, termasuk kami.”

Ia tak memakai kata-kata bombastis, tetapi intinya jelas: andai gelembung AI benar-benar meletus, dampaknya bisa menggetarkan fondasi teknologi global. Para raksasa yang kini berlari kencang—Google, Microsoft, Meta, Amazon—bisa saja tersandung oleh ekspektasi pasar yang terlampau tinggi atau ketidaksiapan publik menerima risiko dari inovasi yang berkembang terlalu cepat.

Di balik layar yang berpendar, dunia digiring menuju masa baru. Namun Pichai ingin memastikan satu pesan tetap tertanam: AI adalah alat, bukan kebenaran mutlak. Bukan nabi digital, bukan pula mesin tanpa cela. Di tengah euforia global, Google memilih mengingatkan dunia bahwa kecerdasan buatan tetap harus diawasi kecerdasan manusia.***

×
Berita Terbaru Update