PEMERINTAH Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyatakan telah resmi memiliki embarkasi haji setelah mengantongi keputusan Menteri Haji dan Umrah No. 11 Tahun 2025 Tentang Bandar Udara Embarkasi dan Debarkasi. Keberangkatan pertama jemaah haji dari Yogyakarta akan dilakukan tahun 2026 melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) yang berada di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta.
Sekretaris DIY Ni Made Dwi Panti Indrayanti, Rabu 5 November 2025, mengatakan bahwa persiapan embarkasi haji Yogyakarta telah melalui beberapa tahap sejak 2022. "ami telah melakukan simulasi dan koordinasi bertahap, termasuk kerja sama dengan hotel-hotel di sekitar bandara untuk menjadi tempat jamaah menginap," kata dia.
Made menjelaskan, syarat embarkasi adalah 4.000 jamaah atau sekitar 10 kloter, dengan jumlah perkloter 400 jamaah. Sementara, DIY tidak bisa meng-cover seluruh kuota sendiri, meskipun ada penambahan dari kuota awal 3.200, menjadi 3.700. Untuk musim haji 2026, jumlah jamaah diperkirakan mencapai 8.000.
Untuk mencukupi syarat minimal embarkasi, DIY menjalin kerja sama dengan Jawa Tengah, terutama daerah kabupaten/kota di Karisidenan Kedu. Dengan Karesidenan Kedu, embarkasi DIY akan menampung jamaah dari enam kabupaten.
Diklaim Hemat Biaya
Embarkasi di DIY diklaim bisa menghemat biaya. Mengingat, besarnya biaya biasanya berada pada transportasi.
Apabila menggunakan pesawat berbadan besar, seperti Boeing 777, dapat menekan biaya transportasi haji karena mengurangi jumlah penerbangan. Dengan adanya beberapa embarkasi, waktu jamaah di Makkah juga lebih efisien, sehingga biaya hidup dan ongkos haji dapat ditekan.
Made mengklaim, penambahan embarkasi di DIY tidak mengganggu pengelolaan embarkasi di Solo. "Embarkasi DIY ini justru memberi kemudahan dan akses lebih baik bagi masyarakat untuk menunaikan ibadah haji. Dengan terbaginya embarkasi, biaya haji bisa lebih efisien dan waktu jamaah di sana tidak terlalu lama," kata dia.
Hotel Haji
Terkait dengan model hotel haji, Made mengatakan hal ini merupakan yang pertama di Indonesia. Dibandingkan pembangunan asrama haji konvensional yang sebelumnya dilakukan di beberapa daerah, model ini dinilai lebih efektif.
"Dengan bekerja sama dengan hotel, fasilitas ibadah, sarana, dan prasarana dapat dioptimalkan, sekaligus memberikan kenyamanan bagi jamaah," kata dia.
Selain itu, lokasi hotel yang strategis dan akses yang mudah, termasuk jalan nasional dan tol, memudahkan alur keberangkatan dan kepulangan jamaah.
"Kalau hotel kan pasti standarnya berbeda, dan ini memberi kenyamanan bagi jamaah. Mereka bisa belajar bagaimana persiapan haji, lalu tinggal di hotel selama di sini," kata dia.
Ia mengatakan, apabila jumlah jamaah meningkat, hotel lain di sekitar bandara masih dapat dimanfaatkan. Sistem ini memungkinkan proses keberangkatan dan kepulangan jamaah berlangsung di tempat yang sama. Termasuk penyelesaian urusan imigrasinya.
Namun, seluruh model ini memerlukan kesiapan daerah, khususnya Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Selain fasilitas hotel, keberadaan sarana pendukung seperti puskesmas dan PLUT turut menjadi pertimbangan agar semua kebutuhan jamaah, mulai dari busana hingga oleh-oleh, dapat terpenuhi.
Baca Juga: Kampung Code Warisan Romo Mangun Kembali Kumuh Baca Juga: Bagaimana Warga Mrican Mengubah Kampung Kumuh Menjadi Asri Maulid Nabi Muhammad di Yogya, Makna Raja Sebar Udhik-Udhik Rebutan Gunungan