, JAKARTA — Perusahaan modal ventura , PT Mandiri Capital Indonesia (MCI) berpendapat dinamika pendanaan startup di Indonesia terdampak akibat informasi yang cenderung bersifat negatif.
Namun demikian, Direktur Utama MCI Ronald Simonangkir melihat hal ini sebagai pembelajaran penting yang bisa mengubah lanskap investasi startup Indonesia, sehingga bisa menjadi lebih kuat ke depannya.
“MCI terus mendukung pertumbuhan ekonomi digital yang lebih sehat dan kompetitif. Sebagai bagian dari konglomerasi keuangan Bank Mandiri, MCI memiliki peran untuk mendukung perusahaan rintisan dari berbagai sektor untuk bersinergi dan saling memberikan nilai tambah,” katanya kepada Bisnis , Selasa (11/11/2025) malam.
Adapun, lanjutnya, dalam dua tahun terakhir ini MCI terus menguatkan sisi manajemen risiko sebelum memberikan pendanaan kepada startup, yang dilakukan melalui strategi end-to-end risk assessment .
Strategi tersebut, imbuh dia, selalu dilakukan di setiap tahapan proses investasi untuk setiap startup. Pertama mulai dari pelaksanaan due diligence yang mendalam.
“Kemudian, pelaksanaan monitoring kinerja startup yang lebih intens melalui laporan berkala dan kunjungan rutin, serta penerapan early warning system [EWS] yang memungkinkan untuk cepat melakukan mitigasi risiko,” jelas Ronald.
Tak hanya itu, Ronald turut menjelaskan perusahaannya konsisten meningkatkan kapabilitas SDM. Hal ini dilakukan dengan mewajibkan seluruh pegawainya lulus asesmen sertifikasi manajemen risiko yang terdaftar di OJK.
Meski cara-cara tersebut terus dilakukan, dia tak menampik industri modal ventura masih dihadapi tantangan utama yakni menjadi perusahaan yang memiliki keseimbangan untuk menumbuhkan bisnis ( growth ), menghasilkan laba ( profitability ), mempertahankan keberlangsungan ( sustainability ), dan menerapkan tata kelola ( governance ) yang baik.
“Bagi MCI, tantangan ini diantisipasi dengan tiga langkah utama yaitu penajaman arah dan strategi investasi yang lebih selaras dengan rencana bisnis dan risk appetite Mandiri Group, pemutakhiran proses investasi dengan strategi integrated investment , end-to-end risk management , dan data analytics ,” ucapnya.
Terakhir, Ronald berujar perusahaan konsisten menguatkan tata kelola perusahaan, transformasi organisasi, dan peningkatan kualitas SDM. Menurutnya, tiga cara ini dapat membuat MCI menjaga keberlanjutan portofolio perusahaan.
Lebih jauh, dia menuturkan MCI kini melihat industri financial technology (fintech) tidak lagi berlomba-lomba menjadi super apps atau one-stop-service provider. Mengingat hal ini juga mulai dilakukan oleh lembaga jasa keuangan seperti perbankan.
“Sebab itu, investor fintech saat ini lebih jeli dalam melihat potensi investasi di berbagai jenis layanan keuangan berbasis teknologi. Investor kini tidak hanya melihat dari sisi potensi demografi dan penetrasi teknologi, tetapi juga seberapa cepat teknologi menjadi obsolete serta kemampuan adaptasi fintech agar solusi yang ditawarkan senantiasa relevan,” jelas Ronald.
Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman menyebut saat ini perusahaan modal ventura selektif dalam menyalurkan pembiayaan di tengah ekosistem startup yang sedang menghadapi berbagai tantangan.
“Penyaluran modal ventura masih tetap berlanjut secara selektif dengan fokus terutama pada startup yang memiliki modal bisnis yang berkelanjutan,” tegasnya dalam konferensi pers, dikutip pada Selasa (11/11/2025).
Sebagai informasi, pada September 2025 pembiayaan modal ventura mencapai Rp16,29 triliun, turun tipis 0,24% (MtM). Kendati demikian, nilai pembiayaan modal ventura tumbuh tipis 0,25% ( year on year /YoY). Adapun, nilai aset industri modal ventura menyentuh Rp26,76 triliun atau tumbuh 2,33% YoY dari Rp26,15 triliun.