PR JABAR - Ratusan siswa SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, masih melakukan aksi mogok sekolah hingga Selasa (14/10/2025). Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap kepala sekolah yang diduga menampar seorang siswa karena ketahuan merokok di lingkungan sekolah.
Ratusan Siswa Menolak Masuk Sekolah
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 1 Cimarga, Emi Sumiati, menyampaikan bahwa pihak sekolah telah berupaya membujuk para siswa agar kembali bersekolah. Namun, hingga hari kedua aksi, ajakan tersebut belum mendapat respons positif.
Untuk sementara, pihak sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh sebagai solusi agar proses belajar tidak sepenuhnya terhenti. “Kami tetap mengirimkan materi dan tugas melalui grup WhatsApp, serta berkoordinasi dengan orang tua siswa agar pembelajaran tetap berjalan,” ujar Emi di lokasi sekolah.
Selain itu, pihak sekolah juga telah mengunjungi siswa yang menjadi korban penamparan guna memastikan kondisi psikologisnya. Laporan terkait insiden tersebut sudah disampaikan ke Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Lebak untuk ditindaklanjuti. “Kami sudah berkoordinasi dengan KCD, sekarang tinggal menunggu hasil investigasi,” tambahnya.
Kronologi Aksi Mogok
Aksi mogok sekolah ini bermula dari kejadian pada Jumat (13/10/2025), saat kegiatan Jumat Bersih berlangsung. Kepala sekolah, Dini, memergoki seorang siswa yang sedang merokok di area sekolah. Ketika ditegur, siswa tersebut membantah dan tidak mengakui perbuatannya.
“Saya bukan marah karena dia merokok, tapi karena dia tidak jujur. Saya menegur dengan keras dan mungkin sempat memukul pelan karena emosi, tapi bukan pemukulan keras,” kata Dini menjelaskan kronologi.
Meskipun kepala sekolah sudah berkomunikasi dengan komite sekolah dan orang tua siswa, aksi mogok tetap berlanjut hingga hari berikutnya. Para siswa menolak mengikuti kegiatan belajar mengajar sebagai bentuk solidaritas terhadap teman mereka.
Kepala Sekolah Dinonaktifkan Sementara
Menanggapi situasi yang semakin memanas, Dinas Pendidikan Provinsi Banten disebut telah mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan sementara kepala sekolah SMAN 1 Cimarga untuk memperlancar proses investigasi. Langkah ini diambil agar suasana di lingkungan sekolah bisa kembali kondusif dan tidak ada tekanan terhadap pihak manapun selama penyelidikan berlangsung.
Menurut informasi yang beredar, tim dari Dinas Pendidikan juga telah turun langsung ke lokasi untuk melakukan pendalaman kasus serta mendengar keterangan dari siswa, guru, dan pihak komite sekolah. Pemerintah daerah berharap seluruh pihak bisa menahan diri dan menunggu hasil resmi dari proses pemeriksaan.
Suasana Sekolah Masih Sepi
Pantauan di lapangan menunjukkan suasana sekolah masih sepi dari aktivitas belajar. Beberapa guru tetap datang untuk memastikan keamanan sekolah, sementara siswa memilih berkumpul di luar lingkungan sekolah atau di rumah masing-masing.
Sebagian siswa mengaku kecewa dengan tindakan kepala sekolah yang dianggap berlebihan, meski memahami bahwa merokok di sekolah memang merupakan pelanggaran. Namun, mereka menilai penyelesaian harus dilakukan secara bijak tanpa kekerasan.
Pemerhati Pendidikan: Perlunya Pendekatan Edukatif
Sejumlah pemerhati pendidikan menilai kasus di SMAN 1 Cimarga menjadi refleksi penting bagi dunia pendidikan. Mereka menekankan bahwa meski disiplin perlu ditegakkan, guru dan kepala sekolah tetap harus mengedepankan pendekatan edukatif, bukan emosional.
Pendekatan yang manusiawi dinilai dapat menanamkan kesadaran lebih efektif tanpa mencederai hubungan antara pendidik dan peserta didik. Pemerhati pendidikan juga mendorong adanya pelatihan manajemen emosi bagi tenaga pendidik agar insiden serupa tidak terulang.
Siswa Didorong Kembali ke Sekolah
Hingga saat ini, pihak sekolah bersama komite dan KCD Pendidikan masih terus berupaya membangun komunikasi dengan siswa dan orang tua agar kegiatan belajar mengajar bisa segera normal kembali. Dinas Pendidikan juga membuka layanan konseling bagi siswa yang terdampak secara psikologis.
Aksi mogok di SMAN 1 Cimarga menjadi sorotan publik, sekaligus pengingat bahwa penyelesaian konflik di lingkungan pendidikan perlu ditempuh dengan dialog dan sikap saling menghormati, bukan kekerasan. Pemerintah berharap seluruh pihak dapat bersatu kembali demi keberlanjutan pendidikan siswa di Kabupaten Lebak.