GAZA, - Israel memberlakukan pembatasan baru terhadap masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza dan menutup kembali perbatasan Rafah yang berbatasan dengan Mesir.
Kebijakan ini diumumkan di tengah meningkatnya ketegangan setelah pasukan Israel menewaskan sedikitnya sembilan warga Palestina, empat hari setelah gencatan senjata dengan Hamas mulai berlaku.
Langkah terbaru ini menimbulkan kekhawatiran baru terhadap rapuhnya kesepakatan gencatan senjata yang menjadi bagian dari rencana perdamaian Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang panjang di Gaza.
Dilansir dari Al Jazeera , Israel memberi tahu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa mulai Rabu (15/10/2025), hanya 300 truk bantuan yang akan diizinkan masuk setiap hari ke Jalur Gaza — separuh dari jumlah yang sebelumnya disepakati.
Olga Cherevko, juru bicara Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) di Gaza, membenarkan pihaknya menerima pemberitahuan resmi dari Coordination of Government Activities in the Territories (COGAT), lembaga militer Israel yang mengatur aliran bantuan ke wilayah pendudukan.
Dalam pemberitahuan tersebut, Israel juga menegaskan tidak akan mengizinkan bahan bakar dan gas masuk ke Gaza, kecuali untuk kebutuhan infrastruktur kemanusiaan yang sangat mendesak.
Sementara itu, perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir dipastikan tetap tertutup.
Wartawan Al Jazeera di Gaza City, Hani Mahmoud, mengatakan jumlah bantuan itu “tidak mendekati cukup” untuk memenuhi kebutuhan warga yang terancam kelaparan.
PBB dan Lembaga Kemanusiaan Mendesak Pembukaan Jalur Bantuan
Keputusan Israel tersebut memicu reaksi keras dari lembaga-lembaga kemanusiaan internasional.
PBB dan Palang Merah menyerukan agar semua perbatasan ke Gaza segera dibuka guna memungkinkan masuknya bantuan yang telah menumpuk.
Menurut OCHA, terdapat 190.000 ton metrik bantuan yang sudah siap dikirim ke Gaza.
Sementara itu, UNICEF menyiapkan 1.370 truk bantuan, tetapi jumlah tersebut belum dapat dikirim karena pembatasan baru dari Israel.
“Kerusakan di Gaza begitu besar sehingga dibutuhkan setidaknya 600 truk bantuan per hari,” kata juru bicara UNICEF, Ricardo Pires.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menekankan pentingnya percepatan distribusi bantuan medis.
“Kita harus segera mengirimkan pasokan medis agar tenaga kesehatan yang tersisa di Gaza memiliki peralatan yang mereka butuhkan,” ujar juru bicara WHO, Tarik Jasarevic.
Sembilan Warga Palestina Tewas dalam Serangan Terbaru
Beberapa jam sebelum pengumuman pembatasan bantuan, pasukan Israel melakukan serangan di Gaza utara dan selatan yang menewaskan sedikitnya sembilan warga Palestina.
Menurut sumber medis yang dikutip Al Jazeera , enam orang tewas di Kota Gaza, sementara tiga lainnya terbunuh di Khan Younis.
Rumah Sakit al-Ahli Arab melaporkan lima korban jiwa tambahan di lingkungan Shujayea, Kota Gaza.
Militer Israel berdalih bahwa pasukannya membuka tembakan untuk menanggapi “ancaman” dari kelompok yang mendekati posisi mereka di Gaza utara.
Serangan ini terjadi empat hari setelah gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai berlaku.
Kesepakatan tersebut menjadi bagian dari fase pertama rencana perdamaian Presiden AS Donald Trump, yang juga mencakup pertukaran tahanan dan penarikan sebagian pasukan Israel dari Gaza.
Hamas dan Israel melakukan pertukaran yang mencakup pembebasan sekitar 2.000 tahanan Palestina dan 20 sandera Israel. Sebanyak 154 tahanan Palestina juga diasingkan ke Mesir.
Namun, kesepakatan itu terganggu setelah Hamas gagal menyerahkan seluruh 28 jenazah sandera Israel yang dijanjikan.
Pada hari pertama, kelompok itu hanya menyerahkan empat peti jenazah, diikuti empat lagi pada hari berikutnya.
Militer Israel menuduh Hamas melanggar gencatan senjata karena keterlambatan tersebut.
Trump menanggapi hal itu dengan nada keras di platform Truth Social, menulis:
“ORANG-ORANG YANG MENINGGAL BELUM DIKEMBALIKAN, SEPERTI YANG DIJANJIKAN! Fase Kedua dimulai SEKARANG JUGA!!!”
Hamas beralasan bahwa proses pencarian jenazah memerlukan waktu karena sebagian besar lokasi penahanan telah hancur akibat serangan udara Israel selama berbulan-bulan.
Menurut otoritas kesehatan Palestina, perang yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah menewaskan 67.913 orang dan melukai 170.134 lainnya.
Sementara itu, di pihak Israel, 1.139 orang tewas dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, dan lebih dari 200 orang disandera.