Sebanyak 10 grup kentongan dari berbagai daerah di Kabupaten Purbalingga tampil memukau dengan kreativitas dan kekompakan dalam memainkan alat musik tradisional tersebut.
Festival dibuka secara resmi oleh Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif, yang diawali oleh penampilan grup Kurawa. Acara juga dihadiri Wakil Bupati Dimas Prasetyahani, Ketua DPRD H.R. Bambang Irawan, serta jajaran Forkopimda dan pejabat Pemkab Purbalingga.
Dalam sambutannya, Bupati Fahmi menyatakan apresiasi atas terselenggaranya festival ini sebagai bukti nyata komitmen pemerintah daerah untuk melestarikan seni dan budaya lokal yang menjadi identitas masyarakat Purbalingga.
“Komitmen kami adalah untuk melestarikan budaya yang menjadi ciri khas Purbalingga. Pemerintah memiliki rasa dan tanggung jawab agar budaya lokal bisa terus dilestarikan,” ujarnya.
Bupati juga menekankan pentingnya menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap seni tradisional. Ia mengingatkan bahwa di tengah derasnya pengaruh budaya modern, upaya bersama sangat diperlukan agar anak muda tetap mengenal, mencintai, dan ikut berpartisipasi dalam seni tradisional seperti kentongan.
“Kini banyak anak muda yang terpapar kesenian modern. Karena itu, Pemkab berkomitmen agar tidak hanya kesenian kentongan, tetapi juga berbagai jenis seni seperti tari dan musik tradisional bisa terus dilestarikan,” tambahnya.
Para grup kentongan tampil maksimal di panggung yang terletak di sisi selatan Alun-alun Purbalingga. Musik kentongan dipadukan dengan koreografi dan kostum khas yang menunjukkan kreativitas seniman lokal, menciptakan suasana penuh semangat dan kebersamaan.
Festival ini tidak hanya berfungsi sebagai pelestarian budaya, tetapi juga sebagai hiburan masyarakat dan ruang ekspresi bagi para seniman lokal. Banyak warga mengabadikan momen favorit mereka, menambah kemeriahan acara malam itu.
Bupati berharap Festival Kentongan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat lebih luas, bukan sekadar hiburan tetapi juga sebagai penguat identitas dan kebanggaan budaya daerah.
“Semoga festival ini terus menjadi ruang bagi seniman kita untuk berkreasi dan menjadi kebanggaan bersama masyarakat Purbalingga,” pungkasnya.
Setelah penilaian oleh dewan juri, Grup Seniman Ghaib (nomor urut 10) berhasil meraih Juara 1 dengan nilai 3.800 poin. Juara 2 diraih Trisula Weda (nomor 8) dengan 3.750 poin, dan Juara 3 jatuh pada Citra Nada (nomor 5) dengan 3.650 poin.
Penghargaan Harapan 1 diberikan kepada Natural Tone (nomor 7) dengan 3.550 poin, Harapan 2 kepada Kolokatung (nomor 3) dengan 3.400 poin, serta Harapan 3 kepada Irama Sabuk Wulung (nomor 4) dengan 3.300 poin.
Sebagai bentuk penghargaan, Perumda Owabong akan mengontrak pemenang juara 1, 2, dan 3 untuk tampil rutin selama satu tahun di kawasan wisata Golaga (Goa Lawa Purbalingga).
Langkah ini bertujuan melestarikan budaya lokal sekaligus meningkatkan daya tarik pariwisata. Diharapkan kesenian kentongan semakin dikenal, dicintai, dan berkontribusi positif pada pengembangan wisata daerah.***