-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Komet SWAN Melintas Dekat Bumi Senin Ini, Bisa Terlihat Tanpa Teropong

Minggu, 19 Oktober 2025 | Oktober 19, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-10-28T11:10:05Z

- Sebuah komet baru yang baru ditemukan akan melintas dekat dengan Bumi pada Senin, 21 Oktober, menghadirkan pemandangan langka bagi para pengamat langit. Fenomena langit ini dapat dilihat menggunakan teropong atau teleskop kecil, dan dalam kondisi langit sangat gelap, komet ini bahkan mungkin bisa terlihat dengan mata telanjang.

Komet yang diberi nama C/2025 R2 (SWAN) ini akan mencapai jarak terdekatnya dari Bumi pada hari Senin. Waktu tersebut bertepatan dengan fase bulan baru, sehingga langit akan gelap tanpa gangguan cahaya bulan. Puncak hujan meteor Orionid yang terjadi bersamaan membuat malam itu menjadi momen yang sempurna bagi pecinta astronomi.

Komet ini pertama kali ditemukan oleh astronom amatir asal Ukraina, Vladimir Bezugly, pada 10 September lalu melalui citra dari instrumen Solar Wind Anisotropies (SWAN) di satelit Solar and Heliospheric Observatory milik NASA.

Fenomena Langit Langka di Bulan Oktober

Berdasarkan data dari Comet Observation Database, tingkat kecerahan komet ini berada di kisaran magnitudo 5,6 hingga 6,1, tepat di ambang batas penglihatan mata manusia tanpa alat bantu. Dalam pandangan sebagian besar pengamat, teropong atau teleskop kecil akan diperlukan untuk melihat komet ini, yang tampak sebagai bercak kehijauan dengan ekor samar.

"Dari dalam kota, mungkin kamu tidak akan bisa melihatnya dengan mata telanjang, tapi dengan teropong kamu seharusnya bisa menemukannya," kata Bob King, editor kontributor di Sky & Telescope. Komet ini dapat terlihat di langit barat daya sekitar 45 hingga 90 menit setelah matahari terbenam sepanjang Oktober.

Komet C/2025 R2 akan melintas sejauh 0,26 satuan astronomi atau sekitar 24 juta mil dari Bumi pada 20-21 Oktober, setelah sebelumnya mencapai titik terdekat dengan Matahari pada 12 September. Sejak penemuannya, komet ini terus meningkat kecerahannya karena panas Matahari menyebabkan material es di intinya menyublim langsung menjadi gas, membentuk ekor bercahaya khas komet.

Dilansir dari Space.com, proses tersebut dikenal sebagai sublimasi, di mana gas yang dihasilkan ditiup oleh angin Matahari sehingga membentuk ekor panjang dari debu dan gas yang memantulkan cahaya Matahari. Fenomena ini yang membuat komet tampak bersinar di langit malam.

Dua Komet Terlihat Bersamaan

Menambah keistimewaan, komet lain bernama C/2025 A6 (Lemmon) juga bisa diamati di langit barat laut pada waktu yang bersamaan. Bulan Oktober menjadi momen langka bagi penggemar astronomi, karena dua komet dapat dilihat hampir bersamaan.

Komet Lemmon ditemukan pada Januari lalu oleh Mount Lemmon Survey di Arizona. Saat ini, komet tersebut memiliki tingkat kecerahan lebih tinggi, di kisaran magnitudo 4,8 hingga 5,2, sehingga mungkin dapat terlihat dengan mata telanjang di langit gelap.

Kemunculan dua komet sekaligus ini merupakan peristiwa pertama bagi para astronom amatir sejak kemunculan Komet Tsuchinshan-ATLAS pada Oktober 2024. Kedua komet kini sedang bergerak menjauh dari Matahari setelah melewati titik perihelionnya dan diperkirakan akan semakin redup dalam beberapa minggu mendatang.

Bagi pengamat yang ingin menyaksikan keindahan ini, disarankan untuk mencari lokasi dengan polusi cahaya minimal dan menggunakan aplikasi astronomi seperti Stellarium untuk membantu melacak posisi tepat kedua komet di langit.***

×
Berita Terbaru Update