.CO.ID, JAKARTA -- Sejak fajar peradaban Islam menjejakkan kakinya di Nusantara, pesantren telah berdiri tegak, bukan sekadar sebagai bangunan fisik, melainkan sebagai benteng kokoh yang menjaga dan menghidupkan ruh ajaran.
Di balik tembok-temboknya, ribuan santri tidak hanya disuguhi teori dan teks-teks kuno, tetapi juga dibimbing untuk menjadikan setiap detik kehidupan mereka sebagai ibadah.
Dari suara lantunan Alquran di sepertiga malam, adab saat berinteraksi dengan sesama, hingga cara mereka berkhidmat pada masyarakat, setiap detail adalah cerminan dari bagaimana ilmu agama meresap dan menjadi napas kehidupan. Di sinilah, di jantung tradisi yang tak lekang oleh waktu, sebuah peradaban terus tumbuh dan berdenyut, menanti untuk terus diceritakan.
Allah Ta’ala menegaskan dalam Alquran:
وَمَا كَانَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوۡلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرۡقَة مِّنۡهُمۡ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوۡمَهُمۡ إِذَا رَجَعُوٓاْ إِلَيۡهِمۡ لَعَلَّهُمۡ يَحۡذَرُونَ
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122).
Ayat ini menegaskan urgensi dan kewajiban agar ada sekelompok orang yang memfokuskan diri untuk tafaqquh fid-din (pendalaman ilmu agama), agar kelak mereka kembali kepada masyarakat untuk memberikan pencerahan berbasis nilai-nilai agama. Dalam hal ini, pesantren menjadi medium paling dapat diandalkan sebagai manifestasi pengamalan ayat tersebut.
Warisan dan Keberlanjutan
Bukan sekadar tempat mengaji, pesantren adalah kawah candradimuka yang menempa karakter anak bangsa. Seperti pesan KH. Hasyim Asy’ari, santri tak boleh cuma punya ilmu tanpa akhlak, karena ujungnya cuma kesombongan. Sebaliknya, hanya berakhlak tanpa ilmu justru membuat jalan mereka tersesat.
Hanya ketika ilmu dan akhlak bersatu, mereka akan menjelma menjadi cahaya yang menerangi umat. Prinsip inilah yang dipegang erat oleh Pesantren Lirboyo di Jawa Timur. Lewat tradisi kuno seperti bandongan dan sorogan, ilmu agama diajarkan secara utuh, lengkap dengan sanad yang terjaga, sekaligus menanamkan adab kepada para kyai dan guru.
Tak heran jika KH. Mahrus Aly pernah menyebut pesantren sebagai tempat untuk " nggembleng jiwa ", sebuah proses pembentukan karakter Islami yang kokoh. Di sanalah, para santri menyaksikan langsung bagaimana ajaran agama dihidupkan, bukan cuma di dalam kitab, tetapi juga dalam setiap langkah dan perbuatan para kyai. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri bahwa agama bukanlah sekadar teori, melainkan praktik nyata dalam keseharian.
Konsep ini ternyata juga diamini oleh para tokoh besar lain. Di luar Jawa, Prof. Mahmud Yunus di Sumatera Barat juga melihat pesantren sebagai pusat transmisi ilmu agama dan sekaligus pusat pembaruan pendidikan yang andal.
Tak kalah tegas, KH. Imam Zarkasyi dari Gontor menantang dengan sebuah gagasan revolusioner: "Pendidikan pesantren harus melahirkan ulama yang intelek, bukan saja intelek yang tahu agama". Pesan ini menegaskan bahwa menjadi ulama tidak bisa dilepaskan dari dunia intelektual, karena dari situlah pemikiran-pemikiran segar akan terus lahir untuk memajukan peradaban.
Karena itu, tradisi yang mengkombinasikan ilmu, akhlak, dan semangat pembaruan membuat pesantren tetap relevan. Pesantren bukan sekadar masa lalu, melainkan masa depan yang terus berdenyut, mencetak generasi yang tak hanya berbekal ilmu agama yang mumpuni, tetapi juga karakter yang kuat untuk menghadapi tantangan zaman.
Khidmat, Adab, dan Akhlak Santri
Pesantren menjadi tempat para calon ulama dan generasi penerus bangsa digembleng. Di sinilah, prinsip pengabdian atau khidmah menjadi landasan utama, sebuah prasyarat agar ilmu yang mereka miliki tidak berhenti pada level teori, tapi benar-benar bisa membawa manfaat. Tak heran jika salah satu ciri khas pesantren adalah penanaman semangat pengabdian kepada para santri.
Pengabdian para santri tidak sebatas pada kiai atau guru, tapi juga terwujud dalam interaksi sehari-hari, baik di lingkungan pesantren maupun di masyarakat. Ini memastikan santri tidak hanya lihai menguasai kitab-kitab klasik, melainkan juga mempraktikkan ilmunya sebagai penerang (nur) yang berpindah melalui adab dan keberkahan. Seperti ungkapan di kalangan pesantren, al-khidmatu ‘ain al-manfaat—pengabdian adalah inti dari kebermanfaatan.
Tradisi ini juga menjelaskan mengapa tuduhan feodalisme kepada pesantren tidak relevan. Berbagai ekspresi penghormatan santri kepada kiai bukanlah bentuk penindasan, melainkan perwujudan dari ajaran agama yang memiliki dasar teologis dan historis kuat. Penghormatan ini merupakan manifestasi adab dan kesadaran bahwa ilmu tidak hanya diukur dari hafalan, tetapi juga dari kebeningan hati dan keberkahannya.
Tradisi hormat dan khidmah kepada guru menjadi jalan bagi santri untuk mendapatkan keberkahan dan manfaat ilmu. Seperti yang ditegaskan oleh KH. Bisri Musthofa, ulama Rembang: "Santri harus menerima dan berkhidmah kepada gurunya, karena di sanalah ada barokah."
Pentingnya adab dalam menuntut ilmu juga digaungkan oleh banyak ulama. Al-Zarnuji dalam kitab populernya, Ta‘lim al-Muta‘allim, menekankan bahwa adab adalah syarat ilmu yang bermanfaat. Imam al-Nawawi dalam al-Tibyān juga menegaskan pentingnya akhlak bagi penghafal Alquran. Bahkan, Imam al-Syafi‘i sampai berkata, “Aku membaca kitab adab sebagaimana aku membaca kitab ilmu, bahkan aku lebih membutuhkannya.”
Apa yang tampak sebagai tradisi kuno di pesantren ini justru menjadi kunci untuk mencetak generasi yang tak hanya cerdas, tetapi juga beradab. Ini adalah investasi jangka panjang yang memastikan ilmu yang didapat tidak hanya menjadi pajangan, tetapi benar-benar membawa manfaat bagi diri sendiri dan masyarakat.
Jika kita memandang pesantren merupakan institusi produk zaman dulu, maka sesungguhnya tradisi pesantren telah lama menghidupi apa yang kini disebut pemerintah sebagai “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”. Program ini dicanangkan pada akhir 2024 dan mulai diterapkan tahun 2025 untuk memperkuat karakter anak bangsa.
Menariknya, kebiasaan-kebiasaan yang digagas pemerintah itu justru telah menjadi nafas keseharian santri di pesantren sejak awal. Tujuh kebiasaan yang dimaksud adalah:
1. Bangun pagi: Memulai hari dengan bangun lebih awal
Santri terbiasa bangun sebelum subuh, menyiapkan wudhu, shalat tahajud, lalu shalat Subuh berjamaah dan tadarrus Alquran. Disiplin ini menanamkan semangat bangun lebih awal setiap hari.
2. Beribadah: Melaksanakan ibadah dan berdoa setiap hari
Santri melaksanakan shalat wajib berjamaah, shalat sunnah, dzikir pagi-sore, doa bersama sebelum dan sesudah belajar, serta wirid harian.
3. Berolahraga: Aktivitas fisik untuk menjaga kesehatan tubuh
Pesantren menyiapkan jadwal senam santri, olahraga seperti sepak bola atau volley, hingga pencak silat sebagai bela diri khas nusantara yang juga membentuk mental dan keberanian.
4. Makan sehat dan bergizi: Mengonsumsi makanan seimbang
Santri makan berjamaah di dapur umum pesantren dengan menu sederhana tapi sehat: nasi, sayur, lauk berprotein. Nilai kebersamaan saat makan juga menjadi pendidikan karakter tersendiri.
5. Gemar belajar: Menuntut ilmu tanpa henti
Rutinitas belajar santri: mengaji kitab kuning (bandongan dan sorogan), hafalan Alquran, diskusi ilmiah, hingga membaca buku di perpustakaan pesantren.
6. Bermasyarakat: Aktif membantu sesama
Santri terlibat dalam ro’an (kerja bakti), gotong royong menyiapkan acara pesantren, membantu warga sekitar saat ada kegiatan sosial, serta latihan kepemimpinan di organisasi santri.
7. Istirahat cukup
Santri dididik dengan jadwal disiplin. Setelah isya dan wirid malam, mereka segera tidur agar bangun dini hari. Pola ini menjaga kesehatan fisik dan mental, sekaligus melatih kedisiplinan waktu.
Memerhatikan tujuh kebiasaan tersebut di atas, dengan mudah dapat dipahami bahwa model Pendidikan pesantren, dengan segala dinamikanya dan dengan segala kekhasannya, patut diduga lebih kompatibel dalam perwujudan tujuh pembiasaan tersebut.
Sebab Pendidikan di pesantren, para santri setiap saat mendapat keteladanan dari figur kiai yang hidup membaur setiap saat. Para santri seolah mendapat contoh bagaimana ilmu-ilmu yang dipelajari di bilik-bilik pesantren, dipraktikkan dalam kehidupan nyata sehari-hari oleh kiai.
Interaksi yang lekat antara santri-kiai, secara perlahan dan alamiah akan terjadi proses peneladanan para santri atas laku hidup kiai. Melalui pengalaman dan pengamalan hidup demikian, tradisi pesantren terwarisi dari generasi ke generasi berikutnya.
Menjaga Kesakralan Pesantren di Era Modern
Tantangan pesantren kini bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga menjawab perkembangan zaman. Teknologi digital bisa menjadi pisau bermata dua: ia bisa menjadi sarana dakwah, tapi juga ancaman bila tak disikapi dengan hikmah. Pesantren modern kini banyak memadukan ilmu agama dengan ilmu umum.
Namun ruh kesakralan tetaplah harus terjaga. KH. Wahid Hasyim pernah menekankan pentingnya pesantren membuka diri pada ilmu pengetahuan, tapi tetap berpijak pada nilai Alquran dan sunnah. Contoh sederhana bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari santri: bangun pagi untuk shalat tahajud, muraja’ah hafalan sebelum subuh, lalu belajar di kelas. Rutinitas yang terlihat “biasa” ini justru membentuk mentalitas istikamah, mentalitas konsisten dan memegang komitmen.
Imam Al-Ghazali berkata: “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan”. Amal dan ilmu, yang sejatinya dianugerahkan oleh Allah kepada manusia, adalah untuk didharmabhaktikan untuk kemaslahatan kehidupan umat manusia. Dengan demikian, khidmat santri adalah wujud pendidikan karakter yang bersumber dari Alquran, sunnah, dan tradisi ulama.
Khidmat kepada Guru yang menjadi tradisi pesantren merupakan bukti paling ekspresif dari pendidikan menjauhi sombong. Ia bukanlah penindasan atau relasi kuasa yang timpang, melainkan penanaman nilai luhur yang kini justru menjadi sangat dibutuhkan di kehidupan masyarakat modern saat ini.
Melestarikan Peradaban
Pesantren merupakan institusi peradaban yang berfungsi sebagai pewaris dan penjaga tradisi keilmuan Islam. Kesakralan pengetahuan dan figur ulama (kiai) diwariskan secara turun-temurun melalui proses yang unik. Konsep ini tidak hanya terbatas pada sekadar transmisi pengetahuan, melainkan juga mencakup pembentukan karakter dan adab yang menguatkan keragaman dan membangun kehidupan. Oleh karena itu, melestarikan eksistensi pesantren dapat dipandang sebagai upaya fundamental untuk mempertahankan keberlanjutan wasathiyah Islam di Indonesia.
Setiap elemen dalam ekosistem pesantren, dari aktivitas santri yang mengaji, bimbingan kiai, hingga dukungan kuat dari komunitas masyarakat, terintegrasi dalam upaya kolektif untuk melestarikan ilmu agama. Hubungan hierarkis antara santri dan kiai, yang terwujud dalam konsep khidmat dan adab, menjadi pilar sentral yang mengikat komunitas pesantren.
Pilar-pilar ini, yang juga diperkuat melalui pembiasaan karakter sehari-hari, berfungsi sebagai landasan kokoh yang memastikan nilai-nilai dan tradisi pesantren tidak mengalami degradasi, sekaligus melestarikan identitas khasnya sebagai pusat pendidikan dan moralitas bangsa ini.