-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Opini: Muliakan Air,Strategi Tangguh NTT Menyambut Hujan Awal Musim

Selasa, 14 Oktober 2025 | Oktober 14, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-10-14T09:35:46Z

Oleh: Hamdan Nurdin

Analis Iklim Nusa Tenggara Timur

Sebuah titik balik musim dan harapan baru. Prediksi Curah Hujan dengan metode probabilistic atau peluang terjadi pada Dasarian II Oktober 2025 di NTT bukanlah sekadar data, ini adalah surat resmi dari alam yang memberitahukan kepada kita bahwa hujan sudah mulai menyentuh di sebagian wilayah NTT.

Ini adalah penanda penting sebagai sebuah titik balik yang dinanti setelah musim kemarau mendominasi dalam kurun waktu panjang dan melelahkan.

Prediksi ini menunjukkan bahwa sebagian wilayah NTT, terutama hamparan luas seperti Pulau Sumba dan Pulau Timor Barat, memiliki peluang hujan sangat tinggi, bahkan memiliki peluang lebih dari 70 persen akan segera diguyur hujan dengan kategori sedang.

Secara khusus, perhatian kita tertuju pada wilayah Pulau Timor Barat bagian Timur, yang diprediksi memiliki peluang mencapai kisaran antara 71 − 90 persen berpeluang mendapat surplus curah hujan berkisar antara 50 - 100 mm dalam sepuluh hari kedepan.

Ini bukan lagi sekadar gerimis biasa, melainkan potensi hujan dengan kategori sedang di periode awal musim.

Prediksi peluang curah hujan dasarian ini juga mengajak kita untuk segera menyusun rencana yang lebih baik dalam menghadapi potensi curah hujan yang mendadak tinggi, kesiapan adalah kunci untuk mengubah potensi bencana menjadi berkah.

Orkestra Alam di Balik Awan Tebal NTT

Peningkatan drastis dan terlokalisir pada curah hujan ini memiliki dasar ilmiah yang kuat dimana kondisi ini dipengaruhi oleh interaksi antara lautan dan atmosfer skala global dan regional, ilmuwan sains atmosfer mengenalnya dengan sebutan Dinamika Atmosfer.

Salah satu faktor penggerak utama adalah Angin Musiman (Monsun). Pada bulan Oktober dan November adalah periode krusial, yaitu masa transisi musim atau periode pancaroba.

Dalam periode ini, terjadi perpindahan arah gerak angin musiman. Pelemahan Monsun Australia: Angin timuran yang selama ini membawa udara kering dari Benua Australia yang menjadi pemicu kemarau di NTT kini mulai melemah.

Ia telah kehilangan dominasinya. Seiring dengan melemahnya monsun Australia.

Zona Konvergensi Antartropis (ITCZ) yang merupakan sabuk tempat bertemunya angin dari Belahan Bumi Utara dan Selatan mulai bergerak dan meluas ke wilayah selatan, mendekati wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan, termasuk NTT.

Pergeseran ITCZ ini bertindak sebagai "jalur cepat" pembentukan awan hujan, membawa serta massa udara yang kaya akan uap air dari lautan.

Pengaruh jarak jauh dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik

Dua "raja" iklim global seperti El Nino Southern Oscillation (ENSO) di Samudra Pasifik dan Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudera Hindia, sangat menentukan perilaku curah hujan di NTT.

Meskipun kondisi terkini status ENSO berada pada fase Netral dan memiliki kecenderungan pergerakan menuju fase La Nina (suhu laut Samudera Pasifik bagian Tengah hingga Timur lebih dingin) sehingga hal ini akan mendorong massa udara basah dari Pasifik menuju wilayah Indonesia bagian timur khususnya NTT.

Ini secara langsung akan berdampak pada peningkatan curah hujan di NTT.

Sedangkan kondisi IOD saat ini sedang berada pada fase Netral dan diprediksi akan menuju IOD Negatif (di mana anomali suhu muka laut di wilayah perairan Samudera Hindia bagian Timur atau perairan selatan Sumatera dan Jawa lebih hangat) sehingga hal ini akan berdampak pada adanya peluang meningkatkan suplai uap air ke wilayah selatan Indonesia khususnya wilayah NTT.

IOD Negatif sangat terkenal dengan istilah "booster" hujan bagi wilayah Nusa Tenggara.

Adanya perubahan pergerakan aliran massa udara yang dilihat dari perilaku monsun yang terjadi, adanya peluang La Nina pada periode Oktober hingga Desember 2025 dan perilaku IOD yang Netral dan berpeluang menjadi Negatif, potensi ini mendukung hujan yang kemudian berupaya menciptakan anomali, di mana hujan datang lebih cepat atau dengan intensitas lebih tinggi dari normal pada awal musim.

Anomali Suhu Permukaan Laut (SPL)

Faktor terakhir yang memicu peluang hujan tinggi secara lokal adalah kondisi perairan laut wilayah NTT.

Berdasarkan hasil analisis, Anomali Suhu Permukaan Laut (SPL) Positif di Laut Timor, Laut Sawu dan sebagian Samudra Hindia Selatan NTT.

Implikasi anomali SPL yang lebih hangat dari normal (≥0.75∘C) bertindak seperti "dapur" raksasa yang meningkatkan proses evaporasi atau penguapan air laut.

Kelembaban tinggi ini, ketika diangkat ke atmosfer oleh dorongan angin dan didukung oleh dinamika atmosfer (seperti Gelombang atmosfer Kelvin, Rossby atau MJO yang melintas), akan terkondensasi dengan cepat, membentuk awan Cumulonimbus (Cb) yang menghasilkan hujan lebat bahkan bisa meningkatkan aktivitas petir.

Anomali SPL yang hangat inilah menjadi salah satu alasan penting mengapa wilayah yang berdekatan langsung dengan Laut Timor, khususnya Pulau Timor Barat bagian Timur, menunjukkan peluang besar terjadinya curah curah hujan lebih dari 100 mm per dasarian.

Adaptasi dan Mitigasi Berbasis Ilmu

Dengan pemahaman ilmiah yang jelas, kita bisa merumuskan strategi yang tepat untuk mengubah potensi ancaman menjadi peluang kesejahteraan.

Strategi Adaptasi (Memanen Berkah) Panen Air Hujan (Rain Harvesting) dalam skala komunal bisa manfaatkan limpahan air dari anomali SPL hangat ini, dimana Pemerintah Daerah dan komunitas didorong untuk membangun dan membersihkan bak penampungan air (embung) serta sumur resapan komunal.

Air hujan yang ditabung saat ini adalah jaminan air minum dan irigasi saat puncak musim kering kembali tiba.

Penyesuaian Pola Tanam: Petani harus segera menyelaraskan kalender tanam yang didasarkan pada informasi prakiraan curah hujan dasarian, bulanan dan informasi awal musim hujan dari BMKG-Stasiun

Klimatologi NTT. Jika hujan datang lebih awal dan intensif maka perlu di fokus pada varietas tanaman pangan yang tahan terhadap air di periode musim hujan tahun ini (seperti padi gogo atau jagung yang dipercepat tanamnya) akan sangat krusial.

Strategi Mitigasi (Mencegah Ujian): Gerakan bersih saluran air perlu ditingkatkan dari sekarang dimana sinergi antara hujan lebat dan sumbatan drainase adalah salah satu “resep” utama bencana banjir khususnya di daerah pemukiman perkotaan.

Seluruh lapisan masyarakat wajib membersihkan selokan dan gorong-gorong dari sampah dan endapan lumpur untuk memastikan air mengalir lancar dan meminimalkan risiko banjir bandang.

Waspada Bencana Geologi

Di wilayah perbukitan, terutama Timor, mitigasi longsor harus diutamakan. Lakukan penanaman vegetasi dengan akar kuat (misalnya bambu atau tanaman konservasi) di lereng- lereng kritis.

Warga di zona merah longsor harus siap siaga dan memiliki rencana evakuasi mandiri.

Kesiapsiagaan Maritim

Nelayan dan operator kapal wajib memantau peringatan dini dari BMKG-Stasiun Meteorologi Maritim Tenau secara rutin.

Perubahan cepat terhadap cuaca laut yang dipicu oleh intensnya pertumbuhan awan-awan konvektif di awal musim dapat berdampak pada gelombang tinggi dan angin kencang yang sangat berbahaya terhadap aktivitas pelayaran.

Spirit Persatuan Melawan Ketidakpastian

Prediksi curah hujan dasarian 2 Oktober 2025 ini adalah undangan buat seluruhu masyarakat NTT.

Undangan untuk menggunakan pengetahuan meteorologi dan klimatologi untuk bagaimanan menggabungkannya dengan kearifan lokal yang ada di masyarakat untuk dapat bergerak bersama.

NTT yang Sejahtera adalah wilayah yang hasil buminya melimpah karena air dimuliakan dan dikelola dengan baik.

NTT yang Tangguh adalah komunitas yang setiap anggotanya siap siaga, berkoordinasi dan mampu mengubah setiap tantangan alam menjadi pelajaran berharga.

Mari kita sambut periode pertengahan Oktober 2025 dengan kesiapan yang maksimal.

Satu langkah preventif kita hari ini adalah fondasi bagi ketenangan seluruh komunitas di masa depan. Ayo Bersama Bangun NTT. (*)

Simak terus berita di Google News

×
Berita Terbaru Update