- Masyarakat Pulau Solor tampak seperti baru saja memenangkan sesuatu yang besar. Mereka menyebut hari itu sebagai momentum yang mengubah cara mereka bernapas dengan kehadiran Rumah Sakit Pratama Solor.
Untuk pertama kalinya, layanan kesehatan hadir tanpa harus menyeberang lautan. Sudah lama mereka menunggu, hingga akhirnya Rumah Sakit Pratama Solor berdiri di Lewohedo sebagai jawaban yang nyata.
Pagi itu, Rabu 5 November 2025, halaman rumah sakit penuh dengan manusia. Ada yang datang dengan pakaian terbaik, ada yang membawa anaknya, semuanya ingin melihat bangunan yang selama ini hanya terdengar dari cerita.
Dari kejauhan, wajah-wajah yang biasanya pasrah ketika ada anggota keluarga sakit kini tampak berbinar. Acara peresmian berlangsung meriah. Gubernur Nusa Tenggara Timur Melki Laka Lena datang langsung, ditemani Bupati Flores Timur Anton Doni Dihen dan Wakil Bupati Ignas Boli Uran.
Para tamu berdiri di depan gedung baru itu, seolah menyaksikan sebuah babak baru dalam sejarah kesehatan kepulauan. Momen ini bukan sekadar ceremoni. Ini penanda berakhirnya ketergantungan panjang masyarakat Solor terhadap fasilitas medis di Larantuka.
Sebuah kebiasaan yang dulu terasa wajar, namun penuh risiko ketika gelombang tak bisa diajak berdamai.
Jalan Panjang Pendirian Rumah Sakit
Visitasi Ketat Sebelum Izin Turun
Plt. Direktur RSP Solor, Andreas Adi Hekin, menceritakan bagaimana proses pendirian rumah sakit ini tidak pernah berlangsung mulus. Ia menyebut rangkaian visitasi dari Dinas Kesehatan NTT dan PERSI sebagai fase yang paling menguras waktu dan energi. Semua itu menjadi syarat sebelum Kementerian Kesehatan akhirnya mengeluarkan izin operasional pada 31 Oktober 2025.
Komitmen Pelayanan untuk Warga
Menurut Andreas, seluruh tenaga kesehatan telah dibekali dengan standar pelayanan yang ramah dan profesional. Ia menegaskan bahwa masyarakat Solor akan menjadi pusat dari seluruh aktivitas medis di rumah sakit ini. Komitmen itu menjadi pondasi agar bangunan megah itu benar-benar memberi manfaat.
Harapan Baru di Ujung Timur Flores
Warga berharap rumah sakit ini mampu memperbaiki pelayanan kesehatan yang sebelumnya sulit diakses. Dengan fasilitas yang lebih dekat, mereka tidak lagi harus menyiapkan ongkos transportasi mahal atau mempertaruhkan keselamatan di tengah laut.
Suara untuk Masa Depan RSP Solor
Apresiasi untuk Warga Lewohedo
Gubernur Melki Laka Lena memberi penghargaan khusus kepada warga Lewohedo. Mereka memberikan lahan secara sukarela untuk pembangunan rumah sakit ini. Baginya, sikap itu menunjukkan bahwa gotong royong masih hidup kuat di daerah kepulauan.
Rumah Sakit sebagai Simbol Kehadiran Negara
Gubernur menegaskan bahwa rumah sakit ini bukan sekadar bangunan yang berdiri gagah. Baginya, ini adalah tanda bahwa negara hadir hingga ke daerah paling terpencil sekalipun. Ia ingin RSP Solor menjadi contoh bagaimana wilayah pulau pun berhak mendapatkan layanan yang setara.
Pesan Lembut untuk Tenaga Kesehatan
Dalam sambutan yang disampaikan dengan suara tenang, ia meminta para tenaga kesehatan melayani pasien dengan hati. Ia mengingatkan bahwa di daerah terpencil, profesi medis bukan sekadar pekerjaan. Itu adalah panggilan kemanusiaan, dan senyum sering kali menjadi obat paling sederhana.
Rumah sakit ini membawa harapan baru bagi Solor. Dengan operasional yang dimulai, masyarakat tidak perlu lagi menunggu kapal atau memikirkan biaya perjalanan menuju Larantuka. Semua kebutuhan medis kini lebih dekat dan lebih pasti.
Jika pelayanan berjalan baik, angka rujukan ke luar pulau bisa ditekan. Sistem kesehatan Flores Timur pun dapat semakin kuat, terutama di wilayah kepulauan yang sering terabaikan pembangunan fasilitas publiknya. RSP Solor kini berdiri sebagai wujud nyata agar setiap warga, di mana pun mereka berada, tetap punya kesempatan untuk hidup lebih sehat.***