– Hidup di era digital berarti berhadapan dengan arus informasi tanpa henti. Media sosial, portal berita, hingga percakapan daring bisa memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Pertanyaannya, bagaimana kita tahu apakah kondisi psikologis cukup sehat dalam menerima informasi?
Menurut American Psychological Association (APA, 2022), salah satu tanda psikologi sehat adalah kemampuan individu untuk menyaring informasi secara kritis tanpa langsung bereaksi emosional.
Artinya, orang dengan kondisi mental yang stabil cenderung bisa mengambil jeda sebelum percaya, menyebarkan, atau merespons sebuah berita.
Apa saja tanda psikologi sehat saat menerima informasi?
Mampu mengendalikan emosi
Penelitian dari HealthDirect Australia menunjukkan bahwa orang dengan kesehatan mental baik cenderung tidak mudah cemas atau marah ketika dihadapkan pada informasi mengejutkan. Mereka lebih memilih mencari sumber valid sebelum mengambil kesimpulan.
Berpikir kritis sebelum bereaksi
Studi yang dipublikasikan di PubMed Central (2021) menegaskan, individu yang sehat secara psikologis terbiasa melakukan fact-checking sederhana, misalnya memeriksa sumber berita sebelum menyebarkannya.
Tidak terjebak media overload
Dalam laporan APA Strain of Media Overload (2022), paparan informasi berlebihan dapat menimbulkan stres kronis. Tanda psikologi sehat terlihat dari kemampuan seseorang mengatur waktu penggunaan gawai, berhenti sejenak dari media sosial, dan kembali fokus pada kehidupan nyata.
Mampu menerima perbedaan
Artikel di MedStar Health menjelaskan bahwa orang dengan kondisi mental sehat dapat menerima informasi berbeda dengan tenang, tanpa langsung menolak atau menyerang pihak lain.
Punya strategi coping yang adaptif
Riset di Journal of the American Heart Association (2021) menyebut, mereka yang sehat mentalnya biasanya punya cara menenangkan diri setelah menerima informasi yang memicu kecemasan. Misalnya dengan olahraga, meditasi, atau berbicara dengan orang terdekat.
Selain itu, tanda psikologi sehat juga bisa terlihat dari kemampuan menjaga fokus dan prioritas meskipun dibanjiri informasi. Menurut laporan Sleep Foundation (2020), individu dengan kondisi mental stabil biasanya mampu memilah informasi mana yang benar-benar relevan dengan kebutuhannya. Mereka tidak mudah terdistraksi oleh tren sesaat atau berita sensasional.
Di sisi lain, orang dengan psikologi sehat juga lebih mampu berdiskusi secara sehat meski berbeda pendapat. Bukan sekadar menahan emosi, tetapi juga menggunakan informasi sebagai bahan refleksi, bukan sebagai alat untuk menyerang orang lain. Hal ini penting di era digital, di mana komentar pedas atau perdebatan di media sosial kerap memicu konflik berkepanjangan.
Dengan kata lain, psikologi sehat dalam menerima informasi bukan hanya soal bertahan dari stres digital, tetapi juga tentang menjadikan informasi sebagai sarana tumbuh, baik dalam pengetahuan maupun dalam kemampuan sosial emosional.
Mengapa ini penting?
Media sosial kini bukan hanya tempat berbagi informasi, tetapi juga sumber utama berita harian. Sayangnya, informasi yang beredar tidak selalu akurat. Halodoc (2023) mencatat bahwa berita bohong atau informasi provokatif yang beredar di media sosial bisa memicu stres, kecemasan, bahkan depresi jika tidak dikelola dengan baik.
Dalam konteks psikologi, kemampuan menyaring informasi adalah keterampilan penting yang berkaitan erat dengan resiliensi mental. Orang yang mampu membatasi dampak negatif informasi cenderung lebih tenang, produktif, dan mampu menjaga hubungan sosial tetap sehat. Bahkan, menurut kajian NCBI Bookshelf (2019), regulasi diri terhadap arus informasi berperan penting dalam mencegah kelelahan digital dan gangguan konsentrasi.
Bagaimana cara melatihnya?
-
Atur waktu konsumsi media. Beri jeda dengan menerapkan pola digital detox.
-
Gunakan sumber tepercaya. Pilih media resmi dan hindari informasi dari akun anonim tanpa kejelasan.
-
Kelola emosi dengan mindfulness. Sadari perasaan saat membaca informasi, tarik napas dalam, lalu berpikir ulang sebelum merespons.
-
Bangun literasi digital. Ikut pelatihan atau diskusi publik untuk meningkatkan keterampilan mengenali hoaks.
-
Kembangkan empati. Sadar bahwa orang lain bisa punya perspektif berbeda, sehingga tidak perlu semua perbedaan direspons dengan konflik.
Psikologi sehat bukan hanya terlihat dari bagaimana seseorang mengelola stres, tetapi juga bagaimana ia menyaring dan merespons informasi di era digital. Dengan kemampuan mengendalikan emosi, berpikir kritis, serta menjaga keseimbangan dalam penggunaan media sosial, kesehatan mental dapat tetap terjaga. Karena pada akhirnya, informasi hanyalah alat dan kitalah yang menentukan apakah ia jadi beban, atau justru jadi bekal untuk tumbuh lebih kuat.