– PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatat kinerja solid di tengah tantangan ekonomi sepanjang kuartal II 2025. Perusahaan membukukan pendapatan konsolidasi senilai Rp73 triliun, dengan EBITDA mencapai Rp36,1 triliun dan margin EBITDA sebesar 49,5 persen. Laba bersih yang diraih menembus angka Rp11 triliun atau setara margin 15 persen.
Segmen data, internet, dan layanan IT tetap menjadi tulang punggung pendapatan Telkom, dengan kontribusi mencapai Rp42,5 triliun. Di tengah kompetisi yang ketat dan pelemahan daya beli masyarakat, Telkom masih menunjukkan kekuatan sebagai pemain dominan di pasar digital berkat infrastruktur jaringan yang luas dan basis pengguna terbesar di Indonesia.
Menurut Analis Mandiri Sekuritas, Henry Tedja, kekuatan Telkom terletak pada anak usahanya yang bergerak di sektor infrastruktur digital. “Kami melihat anak usaha yang bergerak di bidang infrastruktur digital berpotensi memberikan peningkatan kontribusi pendapatan dan laba bagi perusahaan di masa mendatang,” ujarnya di Jakarta, 19 Agustus 2025.
Henry menjelaskan, infrastruktur yang dimaksud mencakup bisnis pusat data, jaringan telekomunikasi baik last-mile maupun backbone , serta jaringan kabel bawah laut yang menghubungkan Indonesia ke negara lain. Menurutnya, aset dan kapabilitas tersebut memungkinkan Telkom menarik investasi dari pelaku lokal maupun global.
Ia menilai, pergeseran fokus Telkom ke segmen B2B sangat tepat mengingat pasar B2C yang selama ini digarap Telkomsel mulai menunjukkan tanda-tanda kematangan. “Bisnis B2C hanya bisa tumbuh di kisaran low-to-mid single digit growth . Tapi potensi pertumbuhan B2B sangat besar,” katanya.
Pendorong pertumbuhan segmen B2B antara lain pembangunan masif data center di Indonesia, meningkatnya kebutuhan akan keamanan siber, serta proses digitalisasi bisnis untuk efisiensi operasional. Faktor-faktor ini, menurut Henry, dapat membawa Telkom mencatat pertumbuhan pendapatan di level mid-to-high single digit growth rate .
Tak hanya di segmen enterprise, Henry juga menilai bisnis menara, cloud, wholesale, dan internasional memiliki potensi kontribusi positif. Namun, kontribusi terbesar Telkom ke depan diperkirakan tak lagi datang dari segmen consumer seperti Telkomsel.
“Bisnis mobile Telkomsel sudah mulai mature. Ke depan, pertumbuhan Telkomsel hanya akan bertumpu pada peningkatan penetrasi fixed broadband,” jelas Henry. Ia menambahkan, jika Telkom melakukan konsolidasi aset dan membuka akses infrastruktur ke pihak luar, maka pertumbuhan pendapatan akan lebih optimal.
"Hal ini juga akan mengoptimalkan asset return dalam jangka panjang," pungkas Henry.
Silakan beri tahu jika Anda ingin versi ini disiapkan untuk dipublikasikan langsung ke CMS, disertai meta tag , slug , atau kebutuhan lainnya.