-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Indeks Berita

Tag Terpopuler

7 Keyakinan Kuno Kelas Pekerja yang Sulit Ditinggalkan Generasi Boomer Walau Sudah Sukses

Minggu, 19 Oktober 2025 | Oktober 19, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-10-26T10:10:46Z
Banyak individu dari Generasi Boomer yang berasal dari latar belakang kelas pekerja telah mencapai kesuksesan finansial luar biasa.

Namun, beberapa keyakinan mendasar yang ditanamkan sejak kecil sering kali tetap melekat.

Keyakinan lama ini terus membentuk cara mereka memandang dunia, terlepas dari kekayaan yang dimiliki.

Melansir dari Geediting.com Minggu (19/10), keyakinan tersebut mulanya adalah strategi bertahan hidup yang efektif, tetapi tidak selalu relevan lagi sekarang.

Memahami dan menguji kembali pandangan ini sangat penting untuk hidup dengan tenang dan lebih menikmati kesuksesan. Mari kita lihat tujuh keyakinan kuno yang sulit dihilangkan tersebut.

1. Membeli Versi Murah Selalu Pilihan Paling Cerdas

Bagi mereka, barang merek generik adalah pilihan paling masuk akal ketika setiap rupiah sangat berharga sekali.

Keyakinan ini mengajarkan bahwa mengeluarkan uang lebih banyak adalah pemborosan, bahkan untuk barang berkualitas. Pola pikir ini cenderung tidak berubah meskipun pendapatan mereka sudah jauh lebih besar.

2. Membicarakan Uang Dianggap Tidak Sopan

Di lingkungan kelas pekerja, pembicaraan mengenai biaya atau gaji terasa tabu. Bicara uang terasa seperti menyombongkan diri jika punya, atau memalukan jika tidak punya.

Keengganan ini sering berlanjut hingga dewasa, membuat mereka enggan bernegosiasi gaji.

3. Bertahan di Satu Perusahaan Menunjukkan Loyalitas

Ayah mereka mungkin bekerja di satu tempat selama puluhan tahun, dan itu adalah standar kesetiaan. Dalam keyakinan ini, Anda seharusnya tidak pindah kerja hanya demi uang lebih banyak. Meskipun dunia kerja telah berubah, mereka sering merasa bersalah saat berpindah pekerjaan.

4. Pendidikan Tinggi Hanya untuk Anak Orang Kaya

Meskipun tidak ada larangan untuk kuliah, pesan tersiratnya adalah bahwa universitas bukan untuk keluarga mereka. Pendidikan kejuruan dianggap masuk akal, tetapi gelar sarjana terasa asing dan terlalu mahal. Keyakinan ini sering memicu perasaan tidak pantas di kalangan mereka yang berhasil masuk perguruan tinggi.

5. Meminta Bantuan Berarti Sebuah Kegagalan

Budaya kelas pekerja sangat menjunjung tinggi kemandirian di atas segalanya. Anda diharapkan menangani masalah sendiri tanpa membebani orang lain. Meminta bantuan, bahkan kepada profesional, terasa seperti pengakuan akan kegagalan pribadi.

6. Bank Adalah Lembaga yang Tidak Dapat Dipercaya

Masa lalu mereka mengajarkan untuk tidak memercayai bank yang sering mengenakan biaya tinggi kepada orang miskin. Akibatnya, mereka tetap curiga terhadap lembaga keuangan dan menghindari kartu kredit. Kehati-hatian ini, meskipun pernah melindungi, kini menghambat mereka membangun kekayaan.

7. Kenyamanan Adalah Sesuatu yang Harus Diperjuangkan, Bukan Didapatkan

Ini adalah keyakinan yang paling mengakar, yaitu Anda tidak pantas merasa nyaman hingga benar-benar sukses. Liburan terasa mewah dan berlebihan bagi mereka. Istirahat dianggap kemalasan yang harus dihindari. Keyakinan ini membuat mereka selalu menunda kenyamanan, hidup dalam kecemasan, dan terus menabung untuk keadaan darurat.

Keyakinan-keyakinan ini dulunya adalah cara efektif untuk bertahan hidup di tengah keterbatasan ekonomi. Mereka telah memberikan ketahanan dan etos kerja yang kuat. Namun, terus hidup dalam kecemasan finansial padahal tidak lagi miskin bukanlah kehati-hatian, melainkan jenis kemiskinan yang berbeda.

Penting sekali untuk membedakan antara keyakinan lama yang masih berguna dengan skrip lama yang hanya membatasi. Hanya dengan begitu, mereka dapat mulai menikmati buah dari kerja keras yang telah dilakukan.

×
Berita Terbaru Update