-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ini Strategi Penggunaan Pupuk untuk Wujudkan Swasembada Pangan di Sumatra Barat

Senin, 20 Oktober 2025 | Oktober 20, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-10-28T11:30:50Z

, PADANG - Di tengah gencarnya gerakan penggunaan pupuk organik atau kompos di era pertanian yang mengedepankan inovasi yang dikenal dengan smart farming , ternyata menggunakan jenis pupuk NPK juga bisa menjadi solusi yang efektif.

Menurut Kepala Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatra Barat, Afniwirman, adanya kesadaran petani menggunakan pupuk organik, justru dapat dikolaborasikan dengan pupuk kimia atau NPK.

Dia menjelaskan bahwa kedua jenis pupuk tersebut tidak dapat dipisahkan karena saling melengkapi untuk mendorong pertumbuhan tanaman pertanian yang berproduksi secara baik.

"Bukan kompetitor antara pupuk organik dengan pupuk kimia itu. Tapi jadi 2 kolaborasi yang penting bagi petani, karena dari dua jenis pupuk ini punya keunggulan masing-masing yang dapat memberikan dampak positif bagi pertanian," ujar Afniwirman kepada Bisnis, Minggu (19/10/2025).

Dia mengatakan bahwa dalam penggunaan pupuk organik ini, petani harus memulai kembali kegiatan bertaninya.

Misalnya untuk tanaman cabai merah, sebelum bibit ditanam di lahan yang telah disiapkan, petani harus menebar pupuk organik terlebih dahulu.

Cara ini dilakukan agar mikroba dari pupuk organik bisa memulihkan unsur tanah. Hal ini lantaran sifat mikroba dapat membantu memulihkan kondisi tanah.

"Jadi sebelum lahan tanaman pertanian ini dimulai, bukan kasih pupuk kimia. Tapi pulihkan dulu kondisi tanahnya. Caranya dengan tebar pupuk organik, setelah kondisi tanah pada lahan itu terlihat sudah kembali bagus, barulah dimulai penanaman bibitnya," tutur dia.

Afniwirman menjelaskan cara pemanfaatan pupuk organik sebelum melakukan penanaman ini, dapat dilakukan untuk berbagai jenis tanaman. Mulai dari pertanian cabai merah, jagung, padi, bawang merah, hingga komoditas sayur mayur lainnya.

Kemudian ketika bibit telah ditanam, supaya pertumbuhan tanaman bisa lebih baik dan bisa menjalani masa-masa pembuahan, peran pupuk kimia harus dimaksimalkan.

Dalam upaya meningkatkan produktivitas pertanian, para petani mengandalkan pupuk kimia yakni NPK. Pupuk ini menjadi andalan karena mengandung 3 unsur hara makro utama yang sangat dibutuhkan tanaman, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K).

Ketiga unsur tersebut memiliki peran penting dalam setiap tahap pertumbuhan tanaman. Nitrogen (N) berfungsi merangsang pertumbuhan daun dan batang, sekaligus membantu pembentukan klorofil yang diperlukan dalam proses fotosintesis. Kekurangan nitrogen dapat menyebabkan daun tanaman menguning dan pertumbuhannya menjadi lambat.

Sementara itu, Fosfor (P), yang biasanya terdapat dalam bentuk senyawa P₂O₅, berperan besar dalam pembentukan akar, bunga, dan buah.

Unsur ini juga membantu tanaman menjadi lebih tahan terhadap kondisi lingkungan yang kurang mendukung. Kekurangan fosfor sering ditandai dengan warna daun yang berubah menjadi hijau tua atau keunguan.

Adapun Kalium (K), yang biasanya terdapat dalam bentuk K₂O, berfungsi mengatur keseimbangan air di dalam jaringan tanaman, memperkuat batang, serta meningkatkan kualitas hasil panen, seperti rasa, warna, dan ukuran buah. Jika unsur ini tidak mencukupi, tepi daun biasanya menjadi kering dan menguning.

"Secara umum, pupuk NPK tersedia dalam berbagai komposisi, seperti NPK 16-16-16 atau NPK 20-10-10, yang menunjukkan kadar masing-masing unsur dalam persen. Misalnya, pupuk NPK 16-16-16 mengandung 16% nitrogen, 16% fosfor, dan 16% kalium komposisi seimbang yang cocok untuk berbagai jenis tanaman," tutur Afniwirman.

Dia menyebutkan bahan penyusun utama pupuk NPK berasal dari senyawa kimia seperti urea, amonium nitrat, superfosfat, dan kalium klorida.

Kombinasi inilah yang membuat pupuk NPK mampu memberikan unsur hara lengkap secara praktis dan efisien bagi tanaman.

Oleh karena itu, dengan kandungan unsur hara yang lengkap, pupuk NPK terbukti menjadi salah satu inovasi penting dalam dunia pertanian modern.

Tidak heran jika pupuk ini terus menjadi pilihan utama petani dalam menjaga kesuburan tanah dan meningkatkan hasil panen secara berkelanjutan.

"Jadi antara pupuk organik dan pupuk kimia ini punya peran masing-masing dalam mendorong pertanian yang produktif. Keduanya baik, terkait pupuk organik bisa diproduksi sendiri oleh petani, sedangkan untuk pupuk kimia ini pemerintah telah menyediakannya melalui PT Pupuk Indonesia. Ada yang subsidi dan ada yang nonsubsidi. Petani tinggal pilih, butuhnya apa," katanya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Pawuah Sapakek, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Indra Wardi, mengatakan dia sudah cukup lama menjadi petani cabai merah dan bawang merah.

Dia mengaku pupuk organik dibutuhkan sebelum penanaman dilakukan sebelum kemudian ditebar pupuk kimia.

"Kami malah beli pupuk tidak bersubsidi itu, jenisnya NPK. Ternyata berpengaruh kepada hasil panen, cabainya tumbuh subur dan berbuah lebat," kata dia.

Padahal kalau bicara kebutuhan pupuk, lanjut Afniwirman, untuk satu hektare lahan butuh 1 ton pupuk NPK.

Pupuk tidak cukup ditebar sekali, bahkan bisa hingga 5 atau 6 kali pemupukan hingga dipanen.

"Artinya 5 hingga 6 ton pupuk yang dihabiskan untuk luas lahan satu hektare," jelasnya.

Menurutnya kondisi yang seperti itulah yang menjadi dasar bagi petani dalam penetapan nilai standar harga cabai merah di tingkat petani.

Oleh karena, dia menyatakan untuk pertanian cabai merah, petani lebih memilih membeli pupuk nonsubsidi karena kandungan NPK lebih bagus sehingga dapat memberikan produksi atau panen cabai merah lebih bagus, ketimbang menebar pupuk bersubsidi.

"Ketika melakukan penanaman cabai merah, dengan menggunakan pupuk NPK nonsubsidi, untuk satu masa penanaman bisa melakukan panen cabai merah hingga 30 kali. Hal ini menunjukkan masa pembuahan cabai merah tetap terus bagus, meski telah dipanen berkali-kali,” ungkapnya.

Kondisi panen hingga 30 kali ini dianggap paling bagus karena dari pengalaman Indra ketika membeli pupuk subsidi, panen cabai merah dalam masa tanam 1 kali hanya bisa di angka 20 kali panen.

"Jadi selisih antara penggunaan pupuk subsidi dengan nonsubsidi itu sangat jauh. Bagi kami, dengan bisa memanen hingga berkali-kali itu, suatu hal yang positif, petani bisa untung. Karena, untuk bertani cabai merah modalnya besar, pupuk dan penyemprotan pestisida harus rutin. Sekarang, tanam satu kali bisa panen 30 kali," sebutnya.

Dia mengatakan, untuk usia cabai merah dari masa tanam ke masa panen tidak terlalu lama yakni 6 bulan saja.

Artinya, bila memulai panen perdana saat ini, maka panen berikutnya sudah bisa dilakukan per pekan dengan jumlah panen bisa mencapai 30 kali.

Indra menyampaikan semakin seringnya petani mendapatkan masa panen menunjukkan kualitas cabai merah bagus. Hal ini tidak terlepas dari pemupukan serta pengaruh cuaca.

Berbeda kondisinya jika saat memulai masa panen mesti berhadapan dengan cuaca hujan, kualitas cabai akan turun.

Begitupun jika cuaca sedang panas saat memasuki masa panen, hal itu menyebabkan kualitas cabai menurun karena diserang hama jamur.

Dia menjelaskan selama ini, hasil panen cabai merah yang dipanen di wilayah tersebut, lebih memprioritaskan memasok untuk kebutuhan pasar di sejumlah wilayah di Sumatra Barat (Sumbar), seperti di sekitaran Kabupaten Solok hingga ke Kota Padang.

Setelah itu hasil panen cabai merah di Solok juga turut dipasok ke provinsi tetangga yakni ke Aceh, Sumatra Utara, Riau, dan termasuk ke Jambi.

×
Berita Terbaru Update