— Performa Persebaya Surabaya di Super League 2025/2026 di bawah komando Eduardo Perez sedang menjadi sorotan. Green Force belum pernah meraih kemenangan ketika lebih dulu kebobolan dari lawan sepanjang musim ini.
Catatan itu mencerminkan rapuhnya mental dan daya juang tim ketika tertinggal. Setiap kali gawang Persebaya Surabaya jebol lebih dulu, hasil akhirnya selalu berujung pada kekalahan atau imbang tanpa kemenangan.
Terbaru, Persebaya Surabaya harus menelan pil pahit di hadapan pendukungnya sendiri.
Bermain di kandang pada pekan ke-9, tim asuhan Eduardo Perez tumbang 1-3 dari Persija Jakarta, hasil yang memperpanjang tren negatif saat tertinggal lebih dulu.
Kekalahan tersebut menjadi pukulan berat bagi tim yang memiliki ambisi besar bersaing di papan atas. Namun sang pelatih mencoba menahan rasa kecewa dan berusaha menjaga moral tim agar tidak jatuh terlalu dalam.
“Pada pertandingan hari ini (melawan Persija), tentu saja kami merasa sangat buruk. Tetapi mulai besok, kami harus bersama dan bekerja sangat keras untuk laga berikutnya,” ujar Eduardo Perez.
Ucapan itu menjadi sinyal tegas Persebaya Surabaya akan fokus memperbaiki diri. Sang pelatih menilai masih banyak hal yang bisa ditingkatkan dari sisi teknis, strategi, dan terutama mental bertanding.
Eduardo menekankan pentingnya kerja sama dan semangat pantang menyerah di setiap laga. Ia percaya jika tim mampu menjaga kekompakan, peluang untuk bangkit di pertandingan berikutnya akan semakin besar.
Laga melawan Persija menjadi pelajaran berharga bagi Green Force. Meski tampil dominan di beberapa momen, rapuhnya konsentrasi di lini belakang kembali menghukum mereka.
Masalah ini bukan yang pertama kali muncul musim ini. Dalam empat pertandingan di mana Persebaya Surabaya tertinggal lebih dulu, hasil akhirnya selalu sama: tak ada kemenangan yang bisa diraih.
Catatan itu dimulai sejak pekan pertama saat menjamu PSIM Yogyakarta di Surabaya. Gol tunggal tim tamu membuat Persebaya Surabaya membuka musim dengan kekalahan 0-1 di kandang sendiri.
Tren negatif berlanjut di pekan kelima saat bertandang ke markas Persib Bandung. Lagi-lagi Persebaya Surabaya kebobolan lebih dulu dan gagal membalas hingga laga berakhir 0-1 untuk tuan rumah.
Satu-satunya hasil imbang terjadi pada pekan ketujuh melawan Dewa United Banten FC. Tertinggal lebih dulu, Persebaya Surabaya sempat menyamakan kedudukan, tetapi gagal menambah gol hingga laga usai dengan skor 1-1.
Kisah serupa terulang pada pekan kesembilan saat menjamu Persija Jakarta. Meski sempat menunjukkan perlawanan, pertahanan yang mudah ditembus membuat skor akhir 1-3 menjadi realita pahit di depan Bonek.
Empat laga tersebut memperlihatkan pola yang sama dan menjadi alarm bagi pelatih Eduardo Perez.
Ketika tertinggal, permainan Persebaya Surabaya cenderung kehilangan arah, seolah sulit mengendalikan emosi dan tempo permainan.
Situasi ini memperlihatkan persoalan utama bukan hanya soal taktik atau formasi. Lebih dari itu, mentalitas bertanding dan daya juang saat tertinggal menjadi masalah besar yang harus segera diperbaiki.
Eduardo menyadari betul hal itu dan langsung menyiapkan evaluasi menyeluruh. Ia berjanji akan menganalisis laga-laga sebelumnya agar tim bisa memahami kesalahan dan memperbaikinya secara kolektif.
“Tentu saja kami akan menganalisis pertandingan tersebut. Kami perlu meningkatkan diri,” ucap pelatih asal Spanyol itu dengan nada tegas.
Kini, Persebaya Surabaya memiliki waktu sekitar sepekan untuk mempersiapkan diri sebelum menghadapi PSBS Biak di pekan ke-10.
Pertandingan yang digelar di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Jumat (24/10/2025), akan menjadi ujian mental sekaligus momentum kebangkitan.
Laga melawan PSBS Biak menjadi sangat krusial bagi Green Force. Selain demi memperbaiki posisi di klasemen, kemenangan juga penting untuk mengembalikan kepercayaan diri tim dan suporter.
Eduardo menargetkan tiga poin penuh agar tim kembali ke jalur yang diharapkan. Ia ingin para pemain menatap laga dengan semangat baru dan tidak lagi takut tertinggal lebih dulu.
“Kami akan belajar dari laga melawan Persija dan bekerja keras untuk pertandingan berikutnya,” tegasnya.
Kekalahan demi kekalahan saat kebobolan lebih dulu seharusnya menjadi bahan refleksi mendalam bagi seluruh skuad Persebaya Surabaya.
Tim sebesar Green Force seharusnya memiliki kapasitas untuk bangkit dan membalikkan keadaan di lapangan.
Para suporter tentu berharap performa jeblok ini segera berakhir. Mereka ingin melihat Persebaya Surabaya bermain dengan karakter asli: berani, militan, dan tak mudah menyerah meski dalam tekanan.
Jika mampu memperbaiki mental dan konsentrasi sejak awal pertandingan, bukan tidak mungkin tren buruk ini segera berhenti.
Laga kontra PSBS Biak bisa menjadi titik balik untuk membuktikan Persebaya Surabaya belum kehilangan taji.
Musim masih panjang dan peluang untuk memperbaiki posisi tetap terbuka. Namun satu hal pasti, Persebaya Surabaya tak boleh lagi mudah runtuh setiap kali gawangnya kebobolan lebih dulu.