Museum Siriraj di Bangkok, Thailand, bukanlah destinasi wisata biasa. Dijuluki “Museum of Death” oleh banyak wisatawan asing, tempat ini menyimpan koleksi medis yang mengerikan.
Mulai dari janin cacat yang diawetkan dalam formalin, tubuh korban mutilasi, hingga mumi seorang pembunuh anak bernama Si Quey, museum ini menjadi saksi bisu sejarah kelam dan praktik forensik yang ekstrem di Negeri Gajah Putih.
Terletak di dalam kompleks Rumah Sakit Siriraj, museum ini terdiri dari beberapa bagian, termasuk Ellis Pathological Museum dan Songkran Niyomsan Forensic Medicine Museum. Dua bagian inilah yang paling banyak menarik perhatian karena koleksinya yang ekstrem.
Dalam laporan Where Sidewalks End, disebutkan bahwa “museum ini menampilkan sisi forensik yang jarang dilihat publik, termasuk tubuh korban kejahatan dan spesimen medis yang diawetkan”.
Salah satu koleksi paling kontroversial adalah mumi Si Quey, seorang pria asal Tiongkok yang dieksekusi pada 1959 karena dituduh membunuh dan memakan organ anak-anak. Tubuhnya diawetkan dan dipajang dalam kotak kaca sebagai peringatan publik.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, muncul perdebatan etis mengenai apakah pantas tubuh manusia dijadikan tontonan. “Kami mempertanyakan apakah ini bentuk edukasi atau eksploitasi,” ujar seorang pengunjung yang diwawancarai oleh Your Thai Guide.
Selain Si Quey, museum ini juga memamerkan deretan janin dengan kelainan genetik yang diawetkan dalam toples kaca. Beberapa di antaranya menunjukkan kondisi langka seperti anencephaly dan siamese twins. “Meskipun mengganggu, koleksi ini tetap membangkitkan rasa ingin tahu ilmiah,” tulis Your Thai Guide dalam ulasannya.
Museum ini memang terbuka untuk umum, namun tidak semua orang siap menghadapi kenyataan yang dipajang di balik kaca.
Banyak pengunjung mengaku merasa mual, terguncang, bahkan menangis setelah melihat koleksi yang begitu nyata dan brutal. Namun bagi sebagian lainnya, ini adalah bentuk edukasi medis yang jujur dan tanpa sensor.
Museum Siriraj menjadi pengingat bahwa tubuh manusia bisa menjadi arsip kekerasan, sejarah, dan ilmu pengetahuan sekaligus.
Di tengah kontroversi dan ketertarikan publik, museum ini terus berdiri sebagai ruang yang memaksa kita menatap kematian secara langsung tanpa adanya filterasi. (*)