-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Lima Satwa Liar Indonesia Terancam Punah, Guru Besar UGM Desak Kolaborasi Lintas Sektor

Rabu, 15 Oktober 2025 | Oktober 15, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-10-16T13:10:38Z
PORTAL JOGJA – Sebanyak lima dari sepuluh satwa paling terancam punah di dunia ternyata hidup di Indonesia dengan kondisi yang memprihatinkan.

Berdasarkan data World Wide Fund for Nature (WWF), satwa-satwa tersebut meliputi orangutan Kalimantan, orangutan Sumatera, harimau Sumatera, trenggiling Sunda, dan penyu sisik.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), Prof. Dr. drh. Raden Wisnu Nurcahyo, menilai ancaman utama terhadap kelestarian satwa liar tersebut adalah rusaknya habitat alami akibat alih fungsi lahan, perburuan liar, perubahan iklim, serta penyebaran penyakit.

Menurutnya, penyelamatan satwa liar membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

“Kalau kita tidak saling berkoordinasi, nantinya akan jalan sendiri-sendiri. Tidak boleh ada ego sektoral dalam melindungi satwa yang dilindungi ini,” tegas Wisnu, Senin (13/10/2025).

Wisnu juga menyoroti lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku perdagangan dan perburuan satwa dilindungi. Ia menilai hukuman ringan tidak cukup memberikan efek jera.

“Jika yang diberikan hukuman yang ringan tidak akan memberikan efek jera bagi pelaku,” ujarnya.

Selain penegakan hukum, ia menekankan pentingnya edukasi publik dalam upaya pelestarian satwa. “Kita harus memberikan penyadaran kepada masyarakat,” jelasnya.

Wisnu menambahkan, pendekatan budaya juga dapat menjadi strategi efektif dalam konservasi satwa. Ia mencontohkan masyarakat di Pulau Komodo yang meyakini komodo sebagai saudara, sehingga pantang membunuh hewan tersebut.

“Upaya tersebut sebagai bentuk etno-konservasi,” katanya.

Menurutnya, kerusakan habitat dan perburuan liar dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.

“Contohnya, perburuan rusa yang mengakibatkan predator kekurangan sumber pakan sehingga dia justru mengambil kambing milik penduduk sebagai sasaran,” terangnya.

Wisnu juga menekankan pentingnya memahami peran ekologis satwa liar bagi lingkungan.

“Orangutan, misalnya, makan buah-buahan dan menyebarkan bijinya lewat kotoran sehingga membantu regenerasi hutan,” ujarnya.

Ia pun mengajak semua pihak untuk berkolaborasi menjaga kelestarian satwa liar.

“Intinya, semua pihak itu harus bersama-sama, berkolaborasi, dan berkomunikasi untuk menjaga satwa liar dari kepunahan. Saya kira kita bisa melestarikan satwa liar dengan kekuatan kemampuan kita masing-masing,” pungkasnya.***

×
Berita Terbaru Update