-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Indeks Berita

Tag Terpopuler

McKinsey: Bahan Bakar Fosil tetap Dominasi Pemakaian Energi setelah 2050

Jumat, 17 Oktober 2025 | Oktober 17, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-10-22T05:15:20Z

, JAKARTA — Laporan terbaru dari lembaga konsultan McKinsey menyebutkan bahwa bahan bakar fosil seperti minyak, gas dan batu bara akan tetap mendominasi bauran energi global bahkan setelah 2050. Proyeksi ini mengacu pada asumsi bahwa laju kenaikan permintaan energi akan melampaui transisi ke energi terbarukan .

Berlanjutnya pemakaian energi fosil merupakan tantangan utama untuk mencapai target emisi nol bersih ( net zero climate ). Bahan bakar tersebut merupakan salah satu sumber emisi terbesar dan memicu dampak lingkungan di lokasi eksploitasi dan eksplorasinya.

Berdasarkan laporan bertajuk Global Energy Perspective 2025 itu, permintaan listrik diperkirakan naik di kisaran 20–40% karena konsumsi dari sektor industri dan infrastruktur. Kawasan Amerika Utara diramal menjadi kontributor utama dari lonjakan permintaan listrik ini.

Pemakaian gas alam untuk pembangkit listrik diperkirakan tumbuh signifikan. Dalam skenario Slow Evolution , konsumsi gas alam diproyeksikan naik dari 4.000 miliar kubik meter saat ini menjadi 5.020 miliar kubik meter pada 2050.

Sementara itu, penggunaan batu bara juga diperkirakan berada di level yang lebih tinggi dibandingkan dengan saat ini, terutama didorong oleh aktivitas industri di negara-negara Asean dan China.

McKinsey mengestimasi bauran bahan bakar fosil dalam konsumsi energi global mencapai 41–55% pada 2050, lebih rendah daripada saat ini di angka 64%, tetapi lebih tinggi daripada proyeksi sebelumnya.

Permintaan energi terkait pusat data di Amerika Serikat diproyeksikan naik hampir 25% per tahun hingga 2030, sementara pertumbuhan konsumsi listrik dari pusat data secara global bakal mencapai rata-rata 17% per tahun dalam kurun 2022–2030, terutama di negara-negara OECD.

Sementara itu, bahan bakar alternatif disebut McKinsey kemungkinan besar tidak akan diadopsi secara luas sebelum 2040, kecuali diwajibkan. Meski demikian, energi terbarukan berpotensi memasok hingga 61–67% konsumsi energi global pada 2050.

“Barangkali ini pergeseran terbesar dalam cara kita memandang sistem energi. Jika dikombinasikan dengan pemakaian bahan bakar fosil dalam perekonomian regional dan global, kontribusinya bisa mencapai 55% pada 2050,” kata partner McKinsey Diego Hernandez Diaz kepada Reuters , dikutip Jumat (17/10/2025). Dia menambahkan bahwa McKinsey memperkirakan permintaan minyak tidak akan melandai hingga 2030-an.

Proyeksi permintaan energi McKinsey sendiri dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik dan kebijakan berbagai pemerintah yang mengutamakan keterjangkauan dan keamanan energi daripada mencapai target Perjanjian Paris.

Laporan McKinsey juga mengutip risiko resesi energi, tarif dan inovasi teknologi sebagai faktor-faktor yang memengaruhi berlanjutnya konsumsi tinggi bahan bakar fosil.

×
Berita Terbaru Update