Beberapa waktu lalu, ada diskusi menarik di WAG salah satu komunitas yang saya ikuti.
Diskusi tersebut memperbincangkan tentang sebuah tulisan seorang Kompasianer yang tulisannya di-take down alias diturunkan penayangannya. Padahal, menurut penulis tersebut, tulisan yang ia tulis bersifat kritik yang komprehensif, berdasarkan sumber kredibel, dan tidak bermaksud untuk menyudutkan pihak mana pun.
Saya belum membaca tulisan tersebut karena memang sudah tidak ada dalam penayangan. Namun, saya mencoba mengerti perasaan penulis tersebut. Rasa kecewa muncul karena ternyata admin membuat topik pilihan mengenai refleksi 1 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Dari topik ini, sudah tentu akan banyak tulisan yang mengkritik pemerintahan presiden RI ke-8 tersebut.
Saya tidak mau mengomentari masalah ini karena memang belum membaca tulisan utuh Kompasianer tersebut. Hanya saja, saya ingin memberikan beberapa pendapat mengenai apa yang terjadi di terkait interaksi penulis dengan aturan yang ada di platform ini.
Pertama, saya ingin menyoroti mengenai moderasi artikel yang tayang di . Beberapa kompasianer mengatakan bahwa kini moderasi artikel menggunakan kecerdasan buatan (AI) yang tentu tidak bisa serta merta bisa maksimal dalam membaca artikel Kompasianer yang tayang.
Saya paham sekali bahwa jumlah artikel yang tayang di platform ini amatlah banyak. Penggunaan teknologi AI tentu bisa diharapkan bisa memudahkan kerja admin dalam melakukan moderasi. Namun, bukan berarti AI digunakan sebagai patokan begitu saja. Saya yakin sebagus-bagusnya AI tentu ada kelemahan. Untuk itulah peran tenaga manusia sangat dibutuhkan.
Saya mengambil contoh beberapa bulan lalu saya memenangkan blog soal kereta api. Ada salah satu pemenang yang tulisannya benar-benar terbaca dibuat dari AI. Sampai-sampai saya heran. Kok tulisan seperti ini yang tidak masuk akal secara logika bisa lolos moderasi dan menang blog pula. Kalau lolos moderasi saja tidak masalah. Lah ini bisa menang.
Sedangkan banyak tulisan dari Kompasianer yang dibuat dengan sepenuh hati dan pengalaman luar biasa malah tidak menang. Untung saja, saat saya baca lagi pengumumannya, pemenang tersebut sudah diganti dengan pemenang lain. Bagi saya, kejadian ini sebenarnya bisa dijadikan pelajaran agar proses moderasi dan semacamnya bisa dilakukan lebih baik lagi.
Kedua, karantina artikel yang bagi saya juga perlu diperbaiki lagi. Menurut saya, proses ini juga ambigu. Walau saya paham proses tersebut digunakan untuk menahan artikel yang berpotensi melanggar, tetapi kadang ada beberapa artikel yang sebenarnya aman-aman saja tapi lama sekali untuk ditayangkan.
Beberapa artikel saya yang bagi saya tidak terlalu bermasalah karena hanya bercerita seputar pengalaman pribadi eh ternyata lama sekali tayangnya. Padahal niat hati ingin segera saya bagi di media sosial. Sementara, ada artikel saya yang menurut saya perlu dikarantina untuk dicek admin karena ada beberapa kritik saya yang cukup tajam, eh satu menit sudah tayang. Artinya, saya tidak begitu paham dan jelas mengenai standar proses ini.
Ketiga, rasanya sekarang semakin tumpul. Saya sangat mengapresiasi yang kini bergeser ke platform untuk pendidikan. Saya juga mengapresiasi yang memberi ruang lebih pada Kompasianer yang memiliki keilmuan di bidang tertentu untuk berbagi pengetahuan melalui berbagai kanal yang didukung . Bahkan, banyak kegiatan dan agenda yang melibatkan mereka. Bagi saya ini sebuah hal luar biasa.
Namun, saya merasa ruang diskusi mengenai sebuah ide atau masalah yang sedang hangat dibicarakan tidak seseru masa sebelumnya. Dulu, saat ada isu terkini, berbagai Kompasianer menuliskan buah pemikirannya. Bahkan sampai terbelah dua antara pro dan kontra. Kolom komentar begitu riuh dengan berbagai pendapat saling silang yang meski kadang tak berujung tetapi menjadi daya tarik tersendiri.
Kini, rasanya kegiatan itu jarang sekali saya temukan di . Banyak kompasianer yang mungkin bermain aman agar tulisannya tetap tayang. Tidak ingin bernasib sama dengan Kompasianer yang tulisannya diturunkan tadi.
Riuh rendah mengenai masalah yang hangat pun kini bergeser ke berbagai media sosial. Entah tiktok, IG, maupun X. Padahal, dulu jika ada isu terkini, banyak publik yang menggunakan dan Kaskus - sebagai sumber untuk berdiskusi. Bahkan, banyak isu hot nasional mulanya bersumber dari tulisan Kompasianer.
Mulai Indomie yang ditarik dari pasar Taiwan, penumpang Sukhoi yang diduga menggunakan ponsel sebelum kecelakaan, hingga yang paling hot adalah kasus Gayus Tambunan yang diduga kabur dari tahanan dan bisa menulis di . Kini, rasanya momen tersebut rasanya susah untuk diulang apalagi dengan kebijakan moderasi tulisan yang lebih ketat.
Keempat, eksodus hengkangnya kompasianer. Saya menyadari, kini banyak Kompasianer yang dulunya kritis menjadi tidak lagi menulis di . Ada rekan Kompasianer yang dulu aktif menyuarakan isu tertentu ketika saya cek tulisan terbarunya eh ternyata sudah satu tahun lalu. Ada rekan fiksianer yang dulu karyanya begitu dinanti sudah tak menulis bertahun-tahun. Saat saya cek tulisan terakhirnya, ada sebuah tulisan protes kepada admin karena tulisan cerpennya dihapus tanpa pemberitahuan yang jelas. Padahal, ia sudah susah-susah menulis dan mengedit tulisan sedemikian rupa.
Jadi, saya tidak mau berkomentar lebih banyak lagi soal ini. Bagi saya mungkin kini beralih ke platform yang edukatif dan membangun bangsa. Bagi saya sih tak masalah. Namun, karena jiwa saya juga suka menulis kritik, maka tak salah juga saya juga membatasi kegiatan menulis di tidak seaktif dulu. Saya memilih menggunakan platform lain untuk menyuarakan aspirasi saya. Daripada nanti capai menulis panjang lebar, eh malah dihapus. Sayang kan?