-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Studi: Kemampuan Gletser Menahan Pemanasan Global Tinggal Satu Dekade ke Depan

Senin, 20 Oktober 2025 | Oktober 20, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-10-28T11:40:49Z

PENELITIAN terbaru mengungkap bahwa gletser perlahan kehilangan kemampuannya untuk melawan dampak perubahan iklim . Temuan yang dipublikasikan di Jurnal Nature Climate Change itu menunjukkan bahwa proses pendinginan alami gletser hanya bersifat sementara dan diperkirakan akan mencapai batas maksimumnya dalam satu dekade ke depan.

Tim dari Institute of Science and Technology Austria (ISTA) yang dipimpin Francesca Pellicciotti menemukan bahwa gletser tampak berusaha menahan pemanasan global dengan mendinginkan udara di sekitarnya. Namun, menurut hasil analisis terhadap kumpulan data global yang mereka himpun, kemampuan ini akan segera berakhir.

Pellicciotti menuturkan bahwa fenomena pendinginan ini pertama kali teramati dari data stasiun iklim di ketinggian 5.000 meter di lereng Gunung Everest. “Setelah meneliti data dengan cermat, kami memahami bahwa gletser bereaksi terhadap udara yang menghangat di musim panas dengan meningkatkan pertukaran suhu di permukaannya,” kata profesor di bidang kriosfer dan hidrosfer pegunungan ini dikutip dari laporan Sci Tech Daily , 12 Oktober 2025.

Gletser Himalaya menyebabkan massa udara dalam jumlah besar mendingin dan mengalir menuruni lereng, membentuk fenomena yang dikenal sebagai angin katabatik. Peneliti pascadoktoral di bidang glasiologi, hidrologi salju, dan meteorologi, Thomas Shaw, menambahkan bahwa semakin hangat iklim, semakin besar pemicu bagi gletser untuk mendinginkan iklim mikro dan lingkungan lokal di lembah bawahnya.

“Namun efek ini tidak akan bertahan lama, dan pergeseran tren akan terjadi sebelum pertengahan abad,” kata Shaw. Setelah periode itu, Shaw menambahkan, suhu di permukaan gletser diperkirakan meningkat lebih cepat sehingga mempercepat proses pencairan dan penyusutan.

Dalam riset lanjutannya, Shaw mengembangkan model global untuk memperkirakan berapa lama gletser dapat terus menyerap ‘kejutan iklim’ akibat pemanasan global. “Kami mengompilasi data dari proyek lama dan baru di kelompok riset kami, menggabungkannya dengan semua data yang telah diterbitkan, dan menghubungi peneliti lain untuk meminta mereka berbagi data yang belum dipublikasikan.”

Melalui analisis data dari 350 stasiun cuaca di 62 gletser di seluruh dunia, Shaw dan timnya menemukan bahwa suhu di permukaan gletser rata-rata meningkat 0,83 derajat Celsius untuk setiap kenaikan 1 derajat Celsius suhu udara di sekitarnya.

Berdasarkan proyeksi model, perkembangan tersebut akan menyebabkan efek pendinginan akan mencapai puncaknya antara 2020-an hingga 2040-an, sebelum kemudian berbalik arah ketika massa gletser terus menurun.

“Saat itu, gletser yang telah aus dan rusak parah akan kembali ‘terhubung’ dengan atmosfer yang terus memanas. Menandai akhir dari perjalanan mereka,” kata Shaw.

Meski hasil penelitian ini menunjukkan masa depan suram bagi gletser dunia, Shaw menilai temuan tersebut masih dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air. “Mengetahui bahwa kemampuan pendinginan diri gletser masih akan berlangsung sedikit lebih lama bisa memberi kita waktu tambahan untuk mengoptimalkan rencana pengelolaan air dalam beberapa dekade mendatang,” ucapnya.

Dia juga berpendapat, penyelamatan gletser secara langsung bukanlah solusi. Menurut dia, kehilangan es tak terhindarkan dan umat manusia harus memusatkan seluruh upaya untuk membatasi pemanasan global lebih lanjut. "Bukan pada strategi geo-engineering yang tidak efektif seperti penyemaian awan atau menutupi gletser. Itu ibarat menempelkan plester mahal pada luka tembak,” katanya.

Shaw menekankan pentingnya kebijakan iklim global yang lebih kuat untuk menekan emisi gas rumah kaca. “Setiap kenaikan sepersekian derajat sangat berarti,” ujarnya, menegaskan kembali pesan yang telah lama disuarakan komunitas ilmiah dunia.

×
Berita Terbaru Update