-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Unik Siswa Bawa Puthul Goreng Jadi Lauk MBG,Serangga Musiman Primadona Warga Gunungkidul

Selasa, 14 Oktober 2025 | Oktober 14, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-10-14T07:55:19Z

Viral seorang siswa membawa puthul goreng menjadi lauk pelengkap saat menyantap MBG, serangga musiman yang jadi primadona warga Gunungkidul

- Serangga musiman bernama puthul kini menjadi topik hangat di kalangan masyarakat Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Fenomena ini mencuat setelah beredar luas video warga dan siswa sekolah yang menikmati puthul sebagai lauk dalam program makan bergizi gratis (MBG). Tayangan tersebut viral di media sosial dan ramai diperbincangkan warganet.

Puthul sendiri merupakan jenis serangga bersayap yang biasa muncul pada waktu senja atau saat awal musim hujan.

Serangga ini mudah dijumpai menempel di tanah, dedaunan, maupun batang pohon.

Bagi warga setempat, puthul sudah lama dimanfaatkan sebagai lauk tradisional maupun camilan khas musiman.

“Kemarin saya ikut mencari puthul 1 jam, sampai tersesat di kuburan,” ujar Putri (25), warga Semanu, saat ditemui di Wonosari, Minggu (12/10/2025) petang.

Putri menuturkan, menangkap puthul tidaklah sulit. Serangga yang menempel di dedaunan atau tanah itu cukup ditampung menggunakan wadah yang dibawa dari rumah.

“Sebentar saja langsung dapat banyak, karena sekarang baru musim. Ada yang jual juga Rp 25.000 per botol air mineral tanggung,” jelasnya.

Hal senada disampaikan oleh Sulis Mustika (28), warga Bendorejo, Semanu.

Ia mengatakan bahwa mencari puthul menjadi aktivitas malam yang menyenangkan di awal musim hujan.

Serangga hasil tangkapan kemudian dimasukkan ke dalam botol air mineral yang dilubangi kecil-kecil agar tetap hidup sementara waktu.

“Asyik mencari puthul kegiatan waktu malam, awal musim seperti ini banyak yang mencari, kalau sudah 1 mingguan mulai berkurang,” katanya.

“Harus jeli, kebanyakan kalau di sini di... apa ya, namanya tali kacu, kemudian daun pisang, pohon jambu, dan lainnya,” tambah Sulis.

Setelah dikumpulkan, puthul dibersihkan dengan cara membuang sayapnya, kemudian dicuci hingga bersih dan direbus sebelum diolah.

Puthul bisa dimasak dengan berbagai bumbu sesuai selera, mulai dari bacem yang manis hingga gorengan sederhana berbumbu bawang putih dan garam.

“Digorengnya harus api sedang, jangan terlalu gede. Biasanya untuk lauk dan camilan.

Tapi untuk yang tidak kuat ya biduran, mirip makan belalang gitu,” tutur Sulis.

Bagi masyarakat Gunungkidul, mengonsumsi puthul bukanlah hal baru.

Serangga ini sudah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner turun-temurun di daerah tersebut.

“Sudah lama, warga di sini mengonsumsi puthul untuk lauk,” ungkap Samini (56), warga setempat.

Popularitas puthul semakin meningkat setelah muncul video dari akun TikTok @titikvunny yang memperlihatkan seorang siswa sedang menyantap puthul dalam program makan bergizi gratis di sekolah.

Video berdurasi 1 menit 6 detik itu telah ditonton lebih dari 900 ribu kali dan disukai oleh sekitar 19.500 pengguna.

Unggahan tersebut menuai beragam reaksi netizen, mulai dari rasa penasaran hingga keinginan untuk mencoba langsung puthul.

(/Kompas.com/Disempurnakan dengan bantuan AI)

×
Berita Terbaru Update