-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Wacana Malioboro Bebas Kendaraan Bermotor Menguat

Kamis, 16 Oktober 2025 | Oktober 16, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-10-20T04:15:03Z

AREA pusat wisata dan belanja Jalan Malioboro , Yogyakarta , akan dibuat menjadi kawasan pedestrian atau bebas kendaraan bermotor secara penuh secara berkala. Jalan ini setiap harinya diberlakukan car free night mulai pukul 18.00-21.00 WIB itu, tapi pada peringatan HUT Kota Yogyakarta 7 Oktober 2025 lalu, untuk pertama kali dilakukan uji coba selama 24 jam ditutup dari akses kendaraan bermotor.

Wacana menjadikan Malioboro bebas kendaraan bermotor sehari penuh itu rencananya akan dibuat pemerintah daerah dilakukan secara berkala, tak hanya saat peringatan HUT Kota Yogyakarta.

Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Rizki Budi Utomo menuturkan alasan di balik makin kuatnya wacana menjadikan kawasan Malioboro sebagai pedestrian itu. Malioboro, dari sisi geografis merupakan kawasan yang berada di tengah-tengah Panggung Krapyak hingga Tugu Yogyakarta yang membentuk garis lurus imajiner yang dikenal sebagai Sumbu Filosofi Yogyakarta. Sumbu Filosofi Yogyakarta ini diakui sebagai warisan dunia tak benda UNESCO pada 2023 silam. "Kawasan itu memerlukan perhatian khusus, terutama dalam penataan transportasi," kata Rizki, Rabu, 15 Oktober 2025.

Ia mengklaim jika langkah penataan transpotasi kawasan ini, juga sejalan dengan panduan UNESCO. Yang menekankan keseimbangan antara aktivitas manusia dan kelestarian kawasan bersejarah. “Transportasi itu sejatinya bukan tentang kendaraan, tetapi tentang bagaimana manusia bergerak dari satu titik ke titik lain. Karena itu, yang penting adalah manusianya, bukan kendaraannya,” kata Rizki.

Menuju Zona Rendah Emisi

Menurutnya, kebijakan penutupan jalan saat Selasa Wagen maupun uji coba pedestrian 24 jam saat ulang tahun Kota Yogyakarta lalu merupakan langkah menuju kawasan zona rendah emisi ( low emission zone ). “Tujuannya agar kawasan ini terlindung dari polusi dan tetap selaras dengan nilai-nilai filosofis yang dijaga oleh Yogyakarta,” ujarnya.

Rizki menuturkan, pemerintah berharap penataan kawasan Sumbu Filosofi ini dapat menjadi contoh kongkret penerapan mobilitas berkelanjutan. “Visi kami menuju mobilitas berkualitas atau sustainable mobility ,” ujarnya.

Ia menegaskan, setelah pengakuan UNESCO, pemerintah daerah memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kawasan Sumbu Filosofi agar tetap lestari dan tidak kehilangan nilai historisnya. Tantangan utama dari kawasan ini tidak hanya mempertahankan dari sisi budaya, tetapi juga dari aspek tata ruang dan lingkungan.

“Kalau kita tidak menjaga itu, yang kami khawatirkan justru akan muncul pengakuan lain yang tidak sesuai dengan aturan,” tuturnya.

Filosofi Jalan Malioboro

Pejabat penanggung jawab urusan Keistimewaan Yogyakarta (Paniradya Keistimewan) Aris Eko Nugroho menuturkan makna filosofis yang menjadi ruh kawasan Yogyakarta. "Di sebelah utara (Yogya) ada Gunung Merapi, dan di selatan ada Laut Selatan. Garis (imajiner) yang menghubungkan keduanya melalui Tugu, Kraton, hingga Panggung Krapyak inilah yang disebut Sumbu Filosofi," ujarnya.

Jadi, untuk Malioboro yang lokasinya berada di tengah-tengah garis imajiner itu, kata Aris, elemen-elemen kecil seperti pemilihan vegetasi atau jenis tanamannya tak asal dipilih dan ditanam. Namun, semua dipilih jenis vegetasi yang memang secara kultural memiliki makna simbolis yang mencerminkan filosofi kehidupan masyarakat Yogyakarta.

Tak sekadar perindang, misalnya pohon asam (asem) dan pohon gayam yang ditanami memiliki arti tersendiri. Pohon asem atau asam (Tamarindus indica) melambangkan sengsem (ketertarikan) dan gayam melambangkan ayom (ketenangan). Harapannya, orang-orang yang melewati jalanan itu akan selalu merasa senang atau tertarik, dan tenang atau nyaman. “Tanaman-tanaman di sekitar kawasan Malioboro tak dipilih sembarangan, tetapi yang memang memiliki nilai filosofi,” kata dia.

×
Berita Terbaru Update