.PRMN - Menjadi seorang guru di era transformasi pendidikan bukan lagi sekadar panggilan hati. Kini, profesi guru menuntut standar kompetensi yang terukur, kemampuan adaptasi terhadap perkembangan zaman, serta penguasaan pedagogik yang dapat dipertanggungjawabkan. Dunia pendidikan tidak lagi sebatas mengajar di kelas, tetapi membentuk karakter, menuntun pemikiran, dan menciptakan lingkungan belajar yang bermakna.
Untuk mengemban peran sebesar itu, seorang guru perlu memiliki kualifikasi profesional. Inilah alasan mengapa Pendidikan Profesi Guru (PPG) menjadi jalur yang sangat penting. PPG bukan hanya sekadar program pasca sarjana pendidikan, tetapi sebuah proses penguatan kompetensi secara terstruktur, sebagai syarat memperoleh sertifikat pendidik yang diakui negara.
Seleksi PPG Calon Guru tahun 2025 memberikan kesempatan bagi lulusan S1/D4 ataupun sarjana yang memiliki niat kuat untuk mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Namun, lika-liku proses seleksi tidak bisa dianggap ringan. Setiap tahap memiliki fungsi, penilaian, dan tingkat akurasi yang tinggi. Pemahaman utuh terhadap alur seleksi akan menjadi modal awal untuk menapaki langkah menuju profesi guru yang profesional, terhormat, dan berdaya saing.
Konsep Seleksi PPG 2025: Sistem Berurutan yang Menentukan Kelulusan
Seleksi PPG 2025 dirancang dengan sistem berjenjang, artinya setiap peserta harus melewati satu tahap untuk berlanjut ke tahap berikutnya. Jika terjadi kegagalan di satu titik, maka peserta tidak dapat melanjutkan proses. Sistem ini diterapkan untuk memastikan bahwa calon guru tidak hanya sekadar memenuhi syarat administratif, tetapi memiliki kemampuan akademik dan karakter yang kuat.
Tahap pertama adalah seleksi administrasi. Pada tahap ini, peserta wajib mengunggah dokumen resmi seperti ijazah, KTP, dan berkas lain melalui SIMPKB. Panitia akan memverifikasi keaslian dokumen, kecocokan data, serta relevansi program studi dengan bidang studi PPG yang dipilih.
Tahap kedua adalah Tes Substansi yang dilaksanakan menggunakan metode CAT ANBK. Pada tahap ini, peserta akan diuji dalam tiga aspek utama, yakni:
-
Penguasaan bidang studi yang dipilih
-
Kemampuan literasi membaca dan menganalisis informasi
-
Kemampuan numerasi dalam menalar dan menyelesaikan masalah
Tes ini menuntut pemahaman mendalam, bukan sekadar hafalan. Oleh karena itu, peserta dianjurkan melakukan persiapan sejak awal.
Tahap ketiga adalah wawancara yang berlangsung secara daring. Di sini, aspek kemanusiaan dan kepribadian seorang calon guru diuji. Cara berbicara, motivasi menjadi pendidik, kemampuan refleksi, serta komitmen dalam menjalankan tugas menjadi perhatian utama. Guru ideal bukan hanya orang yang cerdas, tetapi juga yang matang secara psikologis dan emosional.
Tahap Pendaftaran: Persiapan Akun, Portofolio Digital, dan Unggah Dokumen Resmi
Langkah pendaftaran dimulai dengan pembuatan akun di portal resmi PPG. Peserta harus menyiapkan email aktif dan nomor telepon yang selalu terhubung. Ini penting karena seluruh komunikasi, termasuk pengumuman kelulusan, akan dilakukan secara digital.
Setelah akun aktif, peserta mengisi portofolio digital yang mencerminkan kepribadian, pengalaman, serta kesanggupan dalam dunia pendidikan. Portofolio ini bukan sekadar formalitas, tetapi gambaran karakter seseorang sebagai calon pendidik. Data yang diisi mencakup biodata lengkap, riwayat pendidikan, pengalaman organisasi, pelatihan, kegiatan pengabdian masyarakat, dan minat bidang studi PPG yang dipilih.
Peserta juga diwajibkan menulis esai reflektif mengenai alasan memilih profesi guru. Esai ini menjadi dasar penilaian nilai integritas dan keaslian motivasi. Unggah dokumen harus dilakukan dengan teliti, karena kesalahan kecil dapat berakibat pada gagalnya verifikasi dan gugurnya kesempatan mengikuti tahap selanjutnya.
Seleksi PPG 2025 bukan hanya proses administratif, tetapi sebuah perjalanan pembentukan diri menuju identitas guru yang sesungguhnya. Tiga tahap seleksi mencerminkan tiga pilar penting dalam profesi guru: kompetensi akademik, keteguhan karakter, dan komitmen pengabdian.
Proses panjang ini memerlukan persiapan yang matang, kedisiplinan dalam memahami persyaratan, serta ketekunan dalam belajar. Namun, setiap langkah yang ditempuh adalah investasi jangka panjang untuk masa depan profesi pendidikan yang bermartabat.
Menjadi guru berarti menjadi bagian dari pembangunan moral, intelektual, dan peradaban bangsa. Jika seseorang melangkah dengan tekad dan tulus hati, maka perjalanan menuju sertifikasi pendidik bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi kontribusi nyata bagi generasi yang akan datang.***(Lisyah)