-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Di Tengah Penjualan F-35,Rusia Sebut Telah Kirimkan Su-57 ke Mitra Asing: Pelanggan Kami Puas

Kamis, 20 November 2025 | November 20, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-21T10:00:04Z
Ringkasan Berita:
  • Rusia untuk pertama kalinya mengekspor jet tempur generasi kelima Su-57 kepada pembeli asing, meski identitas negara penerima tidak diungkap.
  • Versi ekspor Su-57E diyakini mengalami modifikasi pada sistem avionik, elektronik, dan perangkat lunak dibandingkan versi domestik.
  • Meski produksi Su-57 terbatas dan terhambat sanksi Barat, Rusia tetap berupaya menjaga keberlangsungan industrinya serta menargetkan kepemilikan 76 unit pada 2028.

Di tengah kehebohan berita penjualan jet tempur F-35 oleh Amerika Serikat ke Arab Saudi, Rusia merilis narasi tandingan tentang jet tempur andalannya, Su-57.

Sebagai informasi, Sukhoi Su-57 adalah jet tempur generasi kelima milik Rusia sekaligus pesawat tempur paling modern yang telah resmi bertugas.

Hanya Amerika Serikat, dengan F-35 Lightning II dan F-22 Raptor-nya, serta China dengan Chengdu J-20 dan Shenyang J-35, yang memproduksi secara massal pesawat tempur generasi kelima, yang ditandai dengan kemampuan siluman dan teknologi digital canggih.

United Aircraft Corporation, produsen pesawat utama Rusia, mengatakan pada Senin (17/11/2025) bahwa mereka telah mengirimkan dua unit jet tempur Su-57 kepada pembeli asing, menandai pertama kalinya pesawat ini dikirimkan kepada militer negara lain.

CEO United Aircraft Corporation, Vadim Badekha, mengatakan di Channel One (saluran TV pemerintah Rusia) bahwa “mitra asing” tersebut telah menerima pesawat-pesawat tersebut.

“Mereka telah memulai tugas tempur dan menunjukkan kualitas terbaik mereka,” ujar Badekha seperti yang dilansir Interfax .

“Pelanggan kami puas.”

Badekha tidak menyebutkan negara pembelinya.

Rosoboronexport, eksportir senjata milik negara Rusia, sebelumnya menyatakan pada November 2024 bahwa mereka telah mencapai kesepakatan dengan setidaknya satu pembeli internasional untuk menjual Su-57, tetapi juga tidak mengungkap identitas negaranya.

Pada Februari, media pemerintah Aljazair melaporkan bahwa pemerintah mereka adalah salah satu pembeli.

Pilot-pilot Aljazair disebut sedang menjalani pelatihan di Rusia untuk menerbangkan Su-57.

Versi ekspor pesawat tempur tersebut, Su-57E, diyakini akan mengalami beberapa modifikasi pada avionik, sistem elektronik, dan perangkat lunak dibandingkan versi yang digunakan militer Rusia.

Meskipun Su-57 diproduksi dalam jumlah terbatas, keberhasilan Rusia mengekspor jet ini menunjukkan bahwa Moskow masih mampu memproduksinya secara konsisten, atau setidaknya dapat menyediakan unit dari inventaris yang ada.

Mengutip Business Insider, para pengamat internasional sudah lama berupaya memahami kondisi industri manufaktur militer Rusia, yang terus berkembang sejak invasi besar-besaran ke Ukraina pada 2022.

Frontelligence Insight, kelompok riset sumber terbuka, menyatakan pada Oktober 2024 bahwa lini produksi Su-57 terancam oleh sanksi Barat karena menggunakan komponen seperti radar buatan Jerman.

Barat berupaya membatasi akses Rusia terhadap sumber daya dan komponen melalui sanksi yang menargetkan sektor energi dan teknologi.

Namun, Rusia dianggap berhasil menemukan cara untuk mempertahankan keberlangsungan industri perangnya.

Sementara itu, Ukraina berusaha menghambat produksi militer Rusia melalui serangan lintas batas terhadap fasilitas manufaktur.

Su-57 sendiri jarang digunakan dalam perang melawan Ukraina.

Kremlin lebih mengandalkan pesawat generasi keempat seperti Su-27 dan Su-35, yang lebih sebanding dengan F-16 Fighting Falcon.

Rusia diyakini telah membangun sekitar 20 unit Su-57.

Menteri Pertahanan Rusia saat itu, Sergei Shoigu, mengatakan pada 2020 bahwa militer Rusia menargetkan menerima 22 unit Su-57 pada 2024.

Rusia juga menyatakan bahwa mereka menargetkan kepemilikan total 76 unit Su-57 pada 2028.

Penjualan F-35 ke Arab Saudi

Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi pada Senin (17/11/2025) bahwa ia akan mengizinkan Arab Saudi membeli jet tempur siluman F-35.

Mengutip POLITICO , Trump mengumumkan rencana tersebut menjelang pertemuannya pada Selasa di Gedung Putih dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, pemimpin de facto Arab Saudi.

“Saya berencana melakukan itu,” ujarnya ketika ditanya apakah ia berniat memberikan akses F-35 kepada Arab Saudi.

“Mereka ingin membelinya. Mereka sekutu yang hebat.”

Jika kesepakatan ini berjalan, maka ini akan menjadi paket persenjataan besar ketiga yang disetujui Trump dengan pemerintah Saudi selama dua periode kepemimpinannya.

Pada Mei lalu, AS mengumumkan paket persenjataan dan keamanan senilai 142 miliar dolar AS, yang disebut mencakup sistem pertahanan udara dan rudal, aset maritim, serta berbagai persenjataan dan dukungan lainnya.

Pada masa jabatan pertamanya, Trump juga mengumumkan kesepakatan persenjataan senilai 120 miliar dolar AS dengan Arab Saudi, meskipun sebagian besar merupakan kelanjutan dari paket yang dinegosiasikan pada era Barack Obama.

Perbandingan Su-57 Rusia dan F-35 Amerika Serikat

Mengutip AeroTime, berikut ulasan lengkap mengenai Su-57 Felon dan F-35 Lightning II serta alasan mengapa mereka dianggap sebagai jet tempur terbaik dunia saat ini.

Sukhoi Su-57

AeroTime menyebut Su-57 Felon dari Rusia sebagai "jet tempur paling lincah di dunia."

Dikutip dari aviationa2z.com, Su-57 Felon dikembangkan sebagai respons Rusia terhadap kebutuhan pesawat tempur generasi kelima.

Yang membedakan Su-57 dari desain siluman Barat adalah pendekatannya yang menekankan "siluman fungsional," yakni keseimbangan antara kemampuan menghindari deteksi dan performa aerodinamis.

Rangka pesawat dirancang dengan tepi, depan, dan belakang yang dibentuk secara presisi, menggunakan material penyerap radar, serta dilengkapi kompartemen senjata internal.

Su-57 mampu mencapai kecepatan Mach 2 (sekitar 2.470 km/jam).

Dengan biaya per unit berkisar antara USD 40–50 juta, Su-57 merupakan upaya Rusia untuk mempertahankan kekuatan udaranya di tengah keterbatasan ekonomi.

Setelah menghadapi berbagai tantangan dalam pengembangannya, pesawat ini dinyatakan mencapai kemampuan operasional awal pada 2020, dengan setidaknya 10 unit telah dikirim dan lebih dari 70 unit direncanakan.

Lockheed Martin F-35 Lightning II

AeroTime menyebut F-35 Lightning II dari Amerika Serikat sebagai "pesawat multiperan paling mumpuni di dunia."

Dilansir aviationa2z.com, F-35 merupakan program jet tempur paling ambisius di abad ke-21.

Keunggulannya tidak hanya terletak pada kemampuannya, tetapi juga pada skalanya yang sangat besar serta partisipasi internasional yang luas.

F-35 ditenagai oleh mesin Pratt & Whitney F135. yakni mesin jet tempur terkuat yang pernah dikembangkan.

F-35 mampu terbang dengan kecepatan Mach 1,6 (sekitar 1.975 km/jam).

Meskipun sering dikritik karena harga per unit yang tinggi, yakni sekitar USD 85 juta (2–3 kali lebih mahal dibanding Su-57), biayanya telah menurun berkat skala produksi massal dan kematangan program.

Lebih dari 1.000 unit F-35 telah dikirim ke 17 negara, termasuk Australia, Israel, Jepang, Korea Selatan, serta sejumlah negara anggota NATO.

Produksi totalnya direncanakan melampaui 3.000 unit.

F-35 menjadi simbol standarisasi teknologi generasi kelima di kalangan angkatan udara Barat dan sekutunya.

Walau tak ada pesawat tempur yang sempurna untuk semua misi, fleksibilitas, penyebaran luas, serta pengembangan berkelanjutan menjadikan F-35 sebagai salah satu jet tempur paling dominan di dunia pada 2025.

(, Tiara Shelavie)

×
Berita Terbaru Update