Adapun acara tersebut dibuka oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Gorontalo, Ismail Madjid, mewakili Wali Kota Adhan Dambea.
Festival ini menjadi semakin menarik dengan hadirnya sesi bedah buku terbaru berjudul “Adhan Dambea: Cerita di Balik Kontroversi” , yang turut menyedot perhatian peserta dari berbagai kalangan.
Dalam sambutannya, Sekda Ismail menegaskan bahwa tantangan literasi di Gorontalo masih cukup besar. Ia mengutip hasil survei yang menggambarkan betapa kecilnya minat baca masyarakat.
“Data menunjukkan bahwa hanya satu dari seribu orang yang memiliki kebiasaan membaca secara rutin,” ungkapnya.
Sekda juga menekankan pentingnya lingkungan sebagai faktor pembentuk budaya membaca.
“Lingkungan yang akrab dengan buku dan aktivitas membaca akan mempengaruhi orang-orang di dalamnya. Dari situlah kebiasaan positif bisa tumbuh,” jelasnya.
Selain itu, Sekda Ismail menyoroti masih adanya ketimpangan akses terhadap bahan bacaan di sejumlah wilayah.
Menurutnya, kondisi tersebut harus dijawab dengan gerakan literasi yang lebih terpadu dan melibatkan banyak pihak.
Di akhir sambutannya, ia mengapresiasi inisiatif penyelenggara yang terus menggaungkan literasi di daerah.
“Saya memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Gorontalo dan seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya Festival Literasi ini,” ucapnya.
Dengan resmi dibukanya festival tersebut, pemerintah berharap masyarakat kian dekat dengan buku serta memperoleh manfaat lebih luas dari akses informasi.***