-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pesona Kampung Naga Tasikmalaya: Jejak Tradisi, Filosofi Hidup, dan Keteguhan Warga Menjaga Adat Leluhur

Jumat, 31 Oktober 2025 | Oktober 31, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-01T10:55:47Z

BAGIKAN BERITA – Suara gemericik Sungai Ciwulan menyambut langkah demi langkah rombongan peserta Famtrip Railway West Java Rute 4 bertema Railways Scenic Panoramic Familiarization Trip to Garut–Tasikmalaya saat menuruni ratusan anak tangga menuju Kampung Naga. Terik matahari siang itu terasa teduh oleh rindangnya pepohonan, seolah alam pun menyambut kedatangan tamu yang hendak menelusuri salah satu kampung adat paling tersohor di Jawa Barat ini.

Di hari ketiga, Kamis, 23 Oktober 2024, menjadi hari istimewa bagi 21 pelaku pariwisata dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Mereka diajak oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat bersama Asita Jabar untuk menjelajah Kampung Naga, bagian dari program Famtrip Railway West Java Rute 4 . Tujuannya tak lain adalah memperkenalkan pesona wisata budaya yang masih lestari di tengah gempuran modernitas.

Jejak Tradisi Tak Jauh dari Jalan Raya

Kampung Naga berada di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Menariknya, kampung ini tak berada di pedalaman terpencil, melainkan hanya sekitar satu kilometer dari jalan raya yang menghubungkan Garut dan Tasikmalaya. Namun begitu melangkah ke dalamnya, suasana seolah berpindah ke masa lalu—ke kehidupan yang bersahaja dan penuh harmoni.

“Kampung Naga itu unik, karena kampung adat ini justru tidak jauh dari jalan raya, tapi masih memegang teguh adat dan budaya leluhur,” ujar Ade Suherlin, sang kuncen atau pemimpin adat Kampung Naga, sambil mengenakan pangsi hitam dan ikat kepala Sunda. “Adat itu warisan keturunan, sedangkan budaya milik bangsa. Kalau kita sendiri tidak merawatnya, lalu siapa lagi?”

Ade menjabat sebagai kuncen secara turun-temurun. Ia bertanggung jawab atas urusan keagamaan dan kemasyarakatan, mulai dari memimpin upacara adat hingga memberikan wejangan kepada warga. “Bahasa Sunda itu bahasa ibu, tugas kita menjaganya agar tidak punah,” ucapnya penuh keyakinan.

Menyatu dengan Alam, Hidup Tanpa Listrik

Untuk mencapai Kampung Naga, wisatawan harus menuruni sekitar 444 anak tangga. Rasa lelah di perjalanan seketika terbayar dengan pemandangan sawah bertingkat, rumah-rumah panggung beratap ijuk, dan udara yang sejuk menyegarkan. Suara lesung yang ditumbuk ibu-ibu setempat menjadi irama khas yang mengiringi kedatangan para tamu.

Kampung seluas 1,5 hektare ini dihuni sekitar 286 jiwa yang hidup dalam 109 bangunan seragam. Rumah-rumah itu berdiri menghadap timur-barat, sejalan dengan arah matahari, melambangkan keseimbangan hidup. Uniknya, jumlah bangunan di Kampung Naga tidak boleh bertambah, mengikuti aturan adat yang sudah dijaga sejak lama.

Meski hidup di era digital, warga Kampung Naga tetap menolak penggunaan listrik. “Kami percaya, tanpa listrik pun hidup tetap berjalan. Kami lebih khawatir kalau listrik membuat kehidupan kami berubah,” kata Ade. Namun, bukan berarti mereka anti-modern. Beberapa warga tetap memiliki ponsel dan menonton televisi, hanya saja mereka mengisi daya di luar kampung.

Filosofi Hidup: “Budaya Itu Tuntunan, Bukan Tontonan”

Hidup di Kampung Naga berarti hidup dengan alam. Mayoritas warganya adalah petani yang menanam padi untuk kebutuhan sendiri. Hasil panen disimpan di leuit atau lumbung di belakang rumah, jarang dijual ke luar kampung. Filosofi sederhana mereka tercermin dalam ungkapan Ade Suherlin, “Budaya itu gaya hidup, bukan hidup bergaya. Budaya itu tuntunan, bukan tontonan.”

Selain kuncen, terdapat dua lembaga adat lainnya, yakni lebe (pengurus agama) dan punduh (pengurus masyarakat). Ketiganya menjadi penjaga tatanan adat yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam setahun, masyarakat menggelar enam upacara adat yang disebut Hajat Sasih , bertepatan dengan bulan-bulan penting dalam kalender Islam, seperti Muharam, Maulid, hingga Idul Adha.

Mitos dan Larangan: Pamali Sebagai Kontrol Sosial

Sebagai kampung adat, Naga memiliki sejumlah larangan atau pamali yang harus ditaati. Warga dilarang memasuki leuweung larangan (hutan keramat), membuang limbah rumah tangga ke sungai, atau menggunakan listrik. Aturan ini bukan tanpa alasan—semuanya bertujuan menjaga keseimbangan alam dan kesederhanaan hidup.

Bagi warga, pamali adalah bentuk penghormatan pada leluhur sekaligus kontrol sosial agar tidak ada yang melanggar nilai-nilai adat. “Kami hidup berdampingan dengan alam. Kalau alam rusak, manusia juga akan kehilangan arah,” tutur Ade lirih.

Belajar dari Kesederhanaan

Rombongan Famtrip tampak terkesima menyaksikan kehidupan warga yang damai dan tertib. Anak-anak Kampung Naga tetap bersekolah di luar kampung, beberapa bahkan melanjutkan pendidikan hingga ke luar negeri. Namun setiap kali mereka pulang, aturan adat tetap berlaku. “Mau setinggi apa pun sekolahnya, kalau pulang ke sini harus ikut aturan,” ujar Ade tersenyum.

Selain pendidikan, warga juga terbuka terhadap layanan kesehatan modern. Meski harus melewati ratusan anak tangga untuk menuju puskesmas, mereka tetap berupaya mendapatkan pelayanan medis terbaik.

Pesona yang Tak Lekang Waktu

Kampung Naga bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang belajar tentang filosofi hidup yang sederhana, seimbang, dan berakar pada budaya. Di sini, kesetaraan sosial begitu terasa: tidak ada rumah megah, tidak ada kelas sosial. Semua warga hidup dalam kebersamaan, seolah menegaskan bahwa harmoni bukanlah kata, melainkan tindakan.

Saat rombongan wisatawan meninggalkan kampung itu, desir angin di lembah dan bayangan ijuk hitam di atap rumah seolah berbisik: selama adat dijaga, budaya akan tetap hidup.

Bagi siapa pun yang datang, Kampung Naga bukan hanya tempat untuk berfoto atau berjalan-jalan—tetapi tempat untuk belajar tentang cara hidup yang menghargai alam, leluhur, dan nilai-nilai kemanusiaan. Sebuah perjalanan yang membuat siapa pun ingin kembali, bukan karena keindahannya semata, tapi karena kedamaiannya yang nyata.

Dari Rel ke Ragam Cerita: Wisata yang Menghubungkan Hati

Railways Scenic Panoramic Familiarization Trip 2025 bukan sekadar perjalanan promosi. Ia adalah upaya nyata menghubungkan kembali wilayah Jawa Barat selatan lewat rel dan cerita. Dari hamparan sawah Garut hingga jembatan baja Cirahong, dari batik hingga budaya adat, perjalanan ini menjadi bukti bahwa wisata berbasis rel bisa menjadi motor penggerak ekonomi kreatif dan kebanggaan daerah.

Dengan kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat lokal, wisata kereta api Jawa Barat kini bukan lagi kenangan masa lalu melainkan masa depan pariwisata yang berkelanjutan dan inklusif.

Menurut Ghurfah Fauzulhaq, Humas DPD ASITA Jawa Barat sekaligus Koordinator Famtrip Rute 4, kegiatan ini merupakan bagian dari strategi pemasaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat untuk mempromosikan destinasi wisata yang dapat dijangkau menggunakan transportasi kereta.

“Program ini dirancang agar pelaku wisata bisa membuat paket tur berbasis jalur kereta, terutama untuk wilayah Garut dan Tasikmalaya,” ujar pria yang akrab disapa Igo. “Pesertanya juga kami pilih dari berbagai daerah strategis, bahkan ada dari Nairobi Afrika Utara, agar promosi pariwisata Jabar menjangkau pasar internasional,” ujar Igo.***

×
Berita Terbaru Update