-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Revitalisasi Kota Tua Belum Menyentuh Kasteel Batavia yang Kian Rapuh

Rabu, 12 November 2025 | November 12, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-12T07:15:05Z

JAKARTA, - Di tengah gegap gempita revitalisasi kawasan Kota Tua Jakarta, ada satu peninggalan bersejarah yang seolah luput dari perhatian, Kasteel Batavia.

Letaknya tidak jauh dari Museum Bahari dan Pelabuhan Sunda Kelapa, hanya sekitar lima menit berkendara.

Namun, berbeda dengan kawasan wisata heritage lain yang mulai bersolek, reruntuhan benteng tua yang dulu menjadi jantung pertahanan VOC ini kini tampak makin runtuh dan terlupakan.

Ironis, karena di saat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta gencar menggaungkan revitalisasi kawasan Kota Tua dan Sunda Kelapa, situs bersejarah yang menjadi “tulang punggung” kelahiran Batavia justru luput dari sentuhan.

“Tidak ada yang berubah kok dari dua tahun, lima tahun lalu. Tidak ada keseriusan terkait bangunan yang sangat penting itu buat memahami sejarah Batavia dan masyarakatnya. Meskipun sudah jadi cagar budaya, tetapi bertahun-tahun terus jadi korban vandalisme,” ujar sejarawan JJ Rizal ketika dihubungi , Senin (11/11/2025).

Pemerintah dianggap belum memperlihatkan tanggung jawab nyata terhadap pelestarian Kasteel Batavia.

Padahal, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya sudah jelas mengatur kewajiban perlindungan.

"Seharusnya pemerintah bisa bicara dengan pihak TNI soal tanggung jawab UU itu. Sekarang kondisinya menyedihkan, jadi tong sampah dan parkir kendaraan berat yang semakin menandaskan, bukan sebagai cagar budaya, tetapi onggokan beban dari masa lalu,” kata dia.

Ditinggalkan di tengah revitalisasi

Sejak 2014, Pemprov DKI Jakarta gencar menata Kawasan Kota Tua sebagai destinasi wisata sejarah. Gedung-gedung di sekitar Fatahillah direstorasi, trotoar diperlebar, dan area pedestrian dipercantik.

Namun, jejak Kasteel Batavia, titik nol sejarah Batavia yang berdiri sebelum Kota Tua terbentuk, luput dari perhatian.

Padahal, secara administratif situs ini termasuk dalam Kawasan Cagar Budaya Provinsi DKI Jakarta, sebagaimana diatur dalam Keputusan Gubernur Nomor 1766 Tahun 2015 dan Peraturan Gubernur No.36 Tahun 2014 tentang Rencana Induk Kawasan Kota Tua.

Menurut Plt Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Mochamad Miftahulloh Tamary, kawasan ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, sebab menjadi fondasi awal berdirinya Batavia.

“Kastil Batavia mulai dibangun sejak 1620 oleh Jan Pieterzoen Coen di atas kastil lama yang ukurannya lebih kecil. Pembangunannya diselesaikan oleh Antonio van Diemen, dan pada 1645 bentuk kastil dan tata letaknya sudah tetap,” ujar Miftahulloh.

“Pada masa Daendels tahun 1809, kastil ini dihancurkan. Batu-batu bata dari kastil digunakan untuk membangun istana baru di Weltevreden kini kawasan Lapangan Banteng,” lanjut dia.

Yang tersisa kini hanya empat ruas tembok utara, timur, selatan, dan barat, serta sisa parit kuno yang dulunya mengelilingi benteng.

Semua itu kini terhimpit di antara perumahan padat, jalur truk pelabuhan, dan bayangan jalan tol layang yang melintas di atasnya.

Sisa Kasteel Batavia adalah bukti material awal mula terbentuknya Batavia abad ke-17. Namun, kondisi fisiknya rentan dan belum optimal dalam perlindungan.

“Sebagian areanya telah bertransformasi menjadi kawasan perdagangan dan permukiman. Kami menilai perlu ada peningkatan pengamanan dan pengelolaan berbasis data arkeologi,” kata dia.

Kawasan sejarah yang kian menyusut

Dari arah Jalan Tongkol, suara kendaraan berat dan truk kontainer menjadi latar tetap kawasan ini.

Di bawah jalan tol layang, Kasteel Batavia berdiri di antara kontras dua zaman masa kolonial dan modernisasi yang rakus lahan.

“Dulu waktu saya kecil, bangunan itu masih agak utuh. Ada bagian atapnya yang belum roboh, lantainya masih tegel putih. Sekarang mah, habis dimakan akar pohon,” tutur Maria (54), warga Kampung Tongkol yang rumahnya hanya berjarak belasan meter dari dinding bata itu.

Maryam tumbuh bersama reruntuhan ini. Setiap hari ia melihat akar-akar beringin menjalar makin jauh, memeluk bata-bata tua yang dulu menyusun benteng terkuat di Batavia.

“Kalau dibiarkan terus, nanti hilang semua. Padahal ini sejarah. Orang cuma tahu Kota Tua, padahal sejarah Batavia dimulai dari sini,” ujarnya.

Kawasan Kampung Tongkol kini padat permukiman. Rumah-rumah berdiri berdempetan di antara tembok-tembok kolonial yang tersisa. Di sisi lain, jalanan berlubang dan genangan air jadi pemandangan sehari-hari.

Di balik hiruk pikuk itu, bangunan peninggalan Jan Pieterszoon Coen hanya tinggal setengah tembok dan satu gudang.

Gudang itu, yang disebut warga sebagai Kasteel Gudang Timur, menjadi satu-satunya sisa fisik Kastil Batavia yang masih berdiri.

Ironisnya, tak ada papan penanda yang menjelaskan pentingnya situs itu. Tak ada pula pagar pengaman atau upaya konservasi nyata.

Rekam jejak Kasteel Batavia

Padahal, di peta Batavia abad ke-17, Kasteel adalah pusat kekuasaan VOC. Ia dibangun mulai 1620 atas perintah Jan Pieterszoon Coen, kemudian diselesaikan oleh Antonio van Diemen pada 1645.

Benteng besar ini menjadi jantung administrasi, pertahanan, dan perdagangan rempah-rempah Belanda di Nusantara.

Namun masa kejayaan itu sirna ketika Willem Herman Daendels pada 1809 memerintahkan penghancuran kastil.

Batu-batu bata dari benteng ini bahkan digunakan untuk membangun Istana Daendels yang kini menjadi Gedung Departemen Keuangan RI di Lapangan Banteng.

Kini, dari seluruh struktur besar itu, hanya tersisa potongan tembok utara, timur, dan selatan. Di antara puing, arkeolog pernah menemukan jejak parit kuno dan fondasi kastil lama penanda penting sejarah urban Jakarta.

Namun kondisi di lapangan menunjukkan sebaliknya: tak ada pengamanan, tak ada pagar, dan tak ada pengelolaan. Bahkan sebagian areanya sudah berubah fungsi menjadi lahan parkir kendaraan berat.

“Kalau dilihat sekarang, udah enggak kayak dulu. Dindingnya ngelupas semua, akar pohon udah kayak tembok kedua. Dulu sempat ada niat dari kelurahan mau bersihin, tapi enggak lanjut,” ujar Yasin (62), warga asli Kampung Tongkol.

Ia menatap reruntuhan itu dengan getir.

“Sayang banget. Kalau dikelola bener, bisa jadi sumber kebanggaan warga. Kita bisa bantu jadi penjaga, pemandu, jualan kecil buat pengunjung. Tapi nyatanya, malah kayak tempat buangan,” tuturnya.

Bagi warga Kampung Tongkol, keberadaan reruntuhan itu bukan sekadar peninggalan sejarah, tapi bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Kalau malam suka serem, tapi kalau siang jadi tempat anak-anak main. Kadang ada yang manjat ke temboknya buat naik akar beringin,” kata Nur (38), ibu rumah tangga yang tinggal di sekitar reruntuhan.

Namun ia khawatir dinding besar itu akan ambruk.

“Sebagian udah goyah banget. Kalau hujan, tanahnya becek, suka retak. Takutnya roboh,” katanya.

Warga lainnya, Wahid (47), pedagang minuman di tepi jalan masuk, mengatakan sudah dua dekade menyaksikan bangunan itu membusuk.

“Dulu masih ada bagian yang bisa dimasukin. Sekarang udah enggak berani, takut ketiban bata. Padahal tiap minggu ada aja rombongan turis sejarah datang, foto-foto, tapi enggak ada yang rawat,” ujarnya.

“Sekarang masih bisa diselamatin, tapi kalau nunggu lima tahun lagi, mungkin udah enggak kelihatan bentuk aslinya,” lanjut dia.

Masuk prioritas

Menanggapi hal ini, Plt Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary, menjelaskan bahwa situs Eks Kastil Batavia memang telah tercatat sebagai cagar budaya dan termasuk dalam prioritas pelestarian di wilayah DKI Jakarta.

“Kasteel Batavia memiliki nilai penting dalam merekonstruksi sejarah awal perkembangan Batavia sebagai pusat pemerintahan kolonial di Nusantara,” ujar dia.

Menurut Miftahulloh, lokasi situs berada di Jalan Tongkol RT/RW 09/01, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, dengan batas utara Kali Ciliwung dan barat Jalan Tongkol.

Kawasan itu kini padat permukiman dan aktivitas perdagangan, sehingga pengelolaannya tidak bisa dilakukan secara instan.

“Kondisi fisik situs saat ini memang rentan dan belum optimal dalam perlindungan. Karena itu perlu peningkatan pengamanan dan pengelolaan berbasis data arkeologi, serta upaya edukatif bagi masyarakat sekitar,” tutur dia.

Ia menyebutkan, berdasarkan Keputusan Gubernur Nomor 1766 Tahun 2015 tentang Penetapan Kawasan Kota Tua sebagai Kawasan Cagar Budaya, serta Pergub Nomor 36 Tahun 2014 tentang Rencana Induk Kawasan Kota Tua, Kasteel Batavia termasuk dalam area pengembangan strategis kebudayaan.

Pada 2021–2022, Pemprov DKI telah melakukan penelitian arkeologi lanjutan di kawasan kastil dan menemukan indikasi adanya struktur bawah tanah serta artefak yang belum diekskavasi.

“Namun hasil penelitian ini bersifat berkelanjutan. Butuh waktu, anggaran, dan koordinasi lintas sektor agar bisa masuk tahap konservasi,” ujar dia.

Revitalisasi yang tak merata

Sejak 2020, Pemprov DKI bersama BUMD dan swasta gencar melakukan revitalisasi kawasan Kota Tua, terutama di area sekitar Museum Fatahillah, Museum Bahari, dan Kali Besar Timur. Jalan-jalan diperbaiki, fasad bangunan diperindah, dan wisata dikembangkan.

Namun Kasteel Batavia yang berjarak hanya beberapa ratus meter dari kawasan wisata utama tetap tak tersentuh. Tak ada penerangan, tak ada plang sejarah, dan tak ada rencana konkret yang melibatkan masyarakat setempat.

Kini, di bawah bayang flyover dan truk-truk pelabuhan yang melintas, Kasteel Batavia berdiri sebagai simbol paradoks Jakarta kota yang maju ke depan sambil melupakan fondasi masa lalunya.

Bagi warga Kampung Tongkol, reruntuhan itu bukan sekadar bangunan tua, melainkan bagian dari identitas kampung mereka.

Di antara bata merah yang retak dan akar yang menjalar, mereka melihat sisa-sisa kejayaan yang kini tinggal kenangan.

“Kalau bisa dijadikan objek wisata kecil juga bagus,” kata Maryam, penuh harap.

“Biar anak-anak tahu kalau di kampung ini ada sejarah besar Batavia. Jangan sampai hilang begitu saja,” lanjutnya.

Di bawah terik sore, bayangan dinding bata memanjang di tanah yang berdebu. Di ujung jalan, truk-truk besar berlalu, meninggalkan debu dan suara mesin yang menelan sunyi.

Di balik kebisingan itu, Kasteel Batavia menunggu, entah untuk diselamatkan, atau dibiarkan runtuh bersama ingatan kolektif yang semakin pudar.

×
Berita Terbaru Update