-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Indeks Berita

Tag Terpopuler

APPI Sebut Daya Beli Masyarakat Tekan Pertumbuhan Kredit Multifinance

Rabu, 15 Oktober 2025 | Oktober 15, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-10-19T03:30:34Z

, JAKARTA — Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) membenarkan tekanan daya beli masyarakat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pertumbuhan piutang pembiayaan di industri multifinance hanya bisa tumbuh tipis.

Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno berpendapat penurunan daya beli masyarakat masih berlangsung karena banyak yang kehilangan pekerjaan dan cenderung menjaga pembeliannya untuk kebutuhan pokok, sehingga untuk hal lain seperti membeli kendaraan ditunda dulu.

Dia menyebut hal ini tercermin dari kinerja industri otomotif yang juga menurun, seperti penjualan roda empat turun 11% dan roda dua menurutnya sudah mulai terlihat minus kecil pertumbuhannya. Padahal, pembiayaan untuk kendaraan masih menjadi penopang industri multifinance.

“Iya masih [jadi penopang], karena 40%—50% lebih kan portofolio kita masih besarnya di pembiayaan mobil dan motor, baik yang baru maupun bekas,” katanya kepada Bisnis , Selasa (14/10/2025).

Sementara itu, lanjutnya, pembiayaan alat berat mengalami pertumbuhan tipis, tetapi tidak bisa double digit. Menurutnya, daya beli menurun tak hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi negara lain mengalami hal serupa, ditambah permasalahan geopolitik seperti perang Rusia-Ukraina yang belum berakhir.

Sebab demikian, Suwandi berpendapat saat ini pemerintah sedang berusaha keras dengan memberikan stimulus-stimulus ekonomi yang bisa mendorong sektor ritel supaya daya beli jadi meningkat.

“Ya kita harapkan apa yang sedang dilakukan oleh beliau [Menkeu Purbaya] membawa hasil dan bisa terjadi satu rangkaian atau perputaran yang bisa menumbuhkan perekonomian kita,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Utama Chandra Sakti Utama Leasing ini berharap agar perusahaan pembiayaan bisa tetap terus bertahan dan stabil, meskipun di satu sisi pertumbuhannya tidak meningkat.

“Misal dengan pemberian modal kerja, nasabah yang sudah lunas ditawari diambil jaminannya untuk kebutuhan modal kerja. Mungkin mau tumbuh besar enggak bisa, yang penting masih tumbuh-tumbuh sedikit atau paling tidak jangan sampai turun,” ujar Suwandi.

Lebih jauh, dia menyebut proyeksi piutang pembiayaan hingga akhir tahun tak jauh beda dari kondisi sekarang yakni di kisaran 1%—2%. Yang terpenting bagi industri multifinance adalah kualitas portofolio tetap terjaga baik.

Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat piutang pembiayaan di industri multifinance per Agustus 2025 tumbuh 1,26% secara ( year on year /YoY) menjadi Rp505,59 triliun.

Sebagai perbandingan, pertumbuhan ini sangat jauh berbeda dengan periode yang sama tahun lalu atau Agustus 2024 yang pertumbuhannya sebesar 10,18% YoY. Secara MtM pun pertumbuhannya turun, per Juli 2025 pertumbuhan piutang pembiayaan sebesar 1,79%.

×
Berita Terbaru Update