-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Terungkap, Ini Alasan Pertamina Campur Etanol di BBM

Jumat, 17 Oktober 2025 | Oktober 17, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-10-22T05:30:19Z

, JAKARTA — Manajemen Pertamina mengungkapkan bahwa penerapan campuran etanol di bahan bakar, sejalan dengan mendukung program transisi energi berkelanjutan di Indonesia.

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyatakan bahwa aksi mencampurkan etanol di bahan bakar di Indonesia, sejalan dengan inisiatif Pertamina dalam mendukung transisi energi menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

“Ini juga bagian dari inisiatif kami mendorong transisi energi dan penciptaan emisi yang lebih rendah, utamanya dari produk BBM,” kata Simon, Jumat (17/10/2025).

Dia mengatakan Pertamina siap mendukung kebijakan pemerintah terkait penggunaan campuran etanol dalam bahan bakar minyak (BBM) sebagai bagian dari upaya percepatan transisi energi dan penurunan emisi karbon.

“Kami akan dukung arahan pemerintah, dan kami tahu bahwa di beberapa negara sudah banyak yang mencampur etanol ,” ujar Simon saat tiba di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Menurut Simon, penggunaan etanol dalam bahan bakar bukan hal baru di dunia. Dia mencontohkan Brasil yang telah menerapkan mandatori bahan bakar etanol 100% (E-100) di beberapa wilayah, sementara negara lain menggunakan campuran E-20, atau 20% etanol dalam bahan bakar bensin.

“Bahkan di Brasil, sudah beberapa tempat itu campuran 100% mandatori, sudah E-100. Tempat lain mungkin hanya E-20,” jelasnya.

Dampak Etanol terhadap Mesin Kendaraan

Sebagai informasi, etanol adalah senyawa alkohol yang dibuat dari hasil fermentasi bahan nabati seperti tebu, jagung, singkong, atau molases (tetes tebu). Ketika dicampurkan ke dalam bensin, etanol berfungsi sebagai oksigenat, yaitu zat yang membantu proses pembakaran menjadi lebih sempurna.

Campuran etanol yang dimaksud merupakan bahan bakar nabati (BBN) berbasis tebu dan singkong yang diolah menjadi bioetanol. Inisiatif ini diharapkan mampu menekan ketergantungan impor BBM sekaligus menurunkan emisi karbon di sektor transportasi.

Pakar Otomotif dan Akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, mobil konvensional (internal combustion engine/ICE) produksi 2010 ke atas rakitan Indonesia umumnya sudah kompatibel dengan campuran etanol hingga E10 tanpa perlu modifikasi tambahan.

“Mobil-mobil ICE produksi 2010 ke atas yang dirakit di Indonesia umumnya sudah siap hingga E10 tanpa modifikasi. Untuk kendaraan hybrid yang baru muncul mulai 2024 jelas juga sudah aman,” ujar Yannes kepada Bisnis, dikutip Senin (13/10/2025).

Dia menambahkan bahwa kendaraan produksi di bawah 2010, penggunaan campuran etanol dengan kadar hingga 5% (E5) umumnya masih aman.

Meski demikian, untuk campuran etanol 10% alias E10, Yannes menyarankan pemilik kendaraan untuk membaca dahulu manual book dari setiap pabrikan dan konsultasi kepada authorized service station masing-masing brand, terkait ketahanan material karet seal, selang karet, injektor, dan sebagainya.

Secara teknis, selain meningkatkan angka oktan untuk mencegah knocking , dampak penggunaan E10 juga dapat menurunkan emisi karbon monoksida (CO) hingga 30% tanpa merusak sistem bahan bakar. Adapun, penurunan jarak tempuh akibat E10 diperkirakan hanya sekitar 1%–3%.

×
Berita Terbaru Update