-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ikrar Pemuda Al Washliyah Menggema di Langit Sibolangit: Dukung Polisi Modern dan Pemerintahan Prabowo–Gibran

Senin, 03 November 2025 | November 03, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-05T09:35:01Z
PR MEDAN - Malam di Sibolangit terasa berbeda. Udara dingin pegunungan berpadu dengan aroma tanah basah dan desir pinus yang menenangkan.

Di tengah suasana hening itu, ribuan kader Gerakan Pemuda Al Washliyah (GPA) berdiri melingkar, membentuk barisan rapi di sekitar api unggun yang menyala temaram, Sabtu malam 2 November 2025.

Nyala obor dan cahaya merah jingga dari api unggun menari di wajah-wajah muda yang penuh tekad.

Di depan barisan, Ketua Umum PP GPA, Aminullah Siagian, melangkah mantap membawa tongkat kayu eboni berukir Asmaul Husna. Begitu ia mengangkatnya ke udara, suara malam seolah berhenti bernafas.

“Demi Allah, kami berikrar…!” serunya lantang. Suaranya membelah udara pegunungan, disambut pekik serentak ribuan pemuda Al Washliyah.

Getaran itu menjalar. Malam yang semula hening berubah menjadi saksi ikrar tujuh janji suci. Sumpah moral untuk bangsa, agama, dan kemanusiaan.

Tujuh Ikrar Pemuda Al Washliyah di Sibolangit

Setia mengawal ulama dan menjaga marwah Al Washliyah.

Menjaga kehormatan organisasi dengan penuh tanggung jawab.

Siap mengawal pemerintahan Prabowo–Gibran.

Mendukung pelaksanaan program Asta Cita menuju Indonesia unggul.

Tidak memberi ruang bagi pihak mana pun yang mencoba memecah belah bangsa.

Mendukung program Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam membangun Polri yang modern dan berintegritas.

Berperan aktif memberantas penyalahgunaan narkoba hingga tingkat akar rumput.

Tongkat Komando, Doa, dan Spirit Keislaman

Dalam cahaya api unggun, tongkat komando yang dipegang Aminullah tampak berkilau. Ukiran Asmaul Husna di sekujur kayu hitam itu bukan sekadar hiasan — melainkan simbol bahwa setiap langkah perjuangan harus berpijak pada doa dan ketulusan.

“Setiap ukiran adalah doa, dan setiap doa adalah kekuatan. Tongkat ini menjadi tanda bahwa arah perjuangan kita bersumber dari Allah SWT, bukan dari ambisi pribadi,” ucap Aminullah dengan suara bergetar.

Ribuan kader yang hadir menundukkan kepala, menyimak penuh haru. Malam itu bukan sekadar penutupan jambore, melainkan momentum pembaruan semangat dan kesetiaan kepada bangsa.

Pesan untuk Pemuda dan Bangsa

Dalam pidatonya, Aminullah menegaskan bahwa pemuda Al Washliyah bukanlah generasi yang gemar mencaci atau menebar kebencian.

Sebaliknya, mereka harus menjadi pelita. Pembangkit semangat rakyat Indonesia.

“Kita tidak boleh menjadi pemuda yang mengoyak persatuan. GPA harus berdiri di garda terdepan menjaga keutuhan bangsa,” tegasnya.

Ia juga menyoroti bahaya politik adu domba yang bisa menggerogoti fondasi persaudaraan. Bagi Aminullah, GPA adalah benteng moral yang siap melawan setiap upaya memecah belah negeri.

Dukungan untuk Pemerintahan dan Polri yang Humanis

Aminullah menegaskan komitmen GPA untuk mengawal pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka, terutama dalam mewujudkan delapan prioritas Asta Cita. Mulai dari penguatan SDM, pemberdayaan pemuda, hingga pembangunan berkelanjutan.

“GPA siap menjadi mitra pemerintah dalam memperkuat masyarakat sipil dan memastikan Asta Cita benar-benar hadir untuk kemakmuran rakyat,” ujarnya.

Tak hanya itu, Aminullah juga memberi dukungan penuh terhadap Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, yang tengah menata Polri menuju lembaga yang modern, profesional, dan berintegritas.

“Langkah Kapolri dalam membangun Polri digital dan humanis layak diapresiasi. Kami mendukung penuh pemberantasan narkoba dan korupsi sampai ke tingkat Polsek,” tegasnya lagi.

Jambore Kebangsaan: Titik Api dari Sibolangit

Malam itu, gema takbir bersahutan di antara pepohonan. Obor-obor kecil terus berkobar di tangan para kader, menyala seperti simbol semangat yang tak padam.

Jambore Kebangsaan dan Kewirausahaan GPA 2025 ini diikuti ribuan peserta dari berbagai provinsi — mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Jakarta, Banten, hingga Sulawesi Tenggara.

Di tengah kobaran api unggun, seorang kader muda bernama Sangkot Simanjuntak berbisik lirih, “Kami siap menjaga marwah Al Washliyah dan mengabdi untuk umat serta bangsa.”

Dan di bawah langit Sibolangit yang bertabur bintang, semangat itu menjelma menjadi janji: Bahwa pemuda Al Washliyah akan terus berdiri tegak — menjaga moral, menebar kebaikan, dan mendukung terwujudnya Polri yang modern, berintegritas, dan humanis.***

×
Berita Terbaru Update