Akhirnya dalang perusakan kebun teh di Pangelangan, Bandung terbongkar. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi memastikan pelaku akan segera ditahan.
Seperti diketahui, peristiwa perusakan kebun teh di Pangalengan, Kabupaten Bandung, belakangan ini viral di media sosial. Dari video viral itu, sejumlah pekerja perkebunan itu tampak memprotes adanya penyerobotan lahan dengan cara memotong tanaman teh.
Mengejutkannya, peristiwa tersebut bukan kali pertama terjadi. Pada 22 April 2025, sejumlah pekerja perkebunan teh melakukan aksi serupa.
Mengetahui hal itu, Dedi Mulyadi tak tinggal diam. Dedi Mulyadi mendukung kepolisian untuk memburu dalang perusakan lahan kebun teh tersebut.
Setelah dilakukan pencarian, identitas pelaku utama perusakan kebun teh di Pangelengan Bandung akhirnya dikantongi polisi. Dedi menegaskan pelaku akan segera ditahan polisi dalam waktu dekat ini.
"Pangalengan kini mengalami perkembangan. Polda Jabar, Polresta Bandung, telah melakukan langkah penanganan."
"Dan mungkin dalam waktu tidak terlalu lama, pelaku dan otak pelakunya akan segera ditahan," kata Dedi Mulyadi melalui akun Instagramnya @dedimulyadi71 Minggu (30/11/2025).
Dedi Mulyadi juga menyentil jajaran PTPN atau PT Perkebunan Nusantara yang merupakan badan usaha milik negara (BUMN) di Indonesia yang bergerak di bidang pengelolaan, pengolahan, dan pemasaran hasil perkebunan. Ia meminta agar mereka menghentikan berbagai kegiatan yang mengalihfungsikan lahan.
"Selanjutnya, saya meminta kepada jajaran PTPN, hentikan berbagai kegiatan yang mengalih fungsikan lahan, menyewakan areal PTPN ke berbagai pihak yang peruntukannya bukan untuk kepentingan perkebunan," katanya.
Dedi Mulyadi juga memberi sindiran menohok pada jajaran PTPN. Ia mengatakan PTPN harus menjadikan kembali areal-areal perkebunan teh dan karet, menjadi perkebunan teh dan karet.
"Kalau menjadi pimpinan PTPN, jajaran direksi PTPN, maka usahanya di bidang perkebunan, bukan di bidang properti, bukan di bidang-bidang lainnya yang bertentangan dengan prinsip-prinsip pengelolaan lahan." katanya.
"Apabila areal-areal itu kosong dan PTPN tidak memiliki kesanggupan untuk melakukan penanaman, mari kita bekerja sama, hijaukan kembali seluruh areal perkebunan di Jawa Barat sesuai dengan jenis tanaman yang layak untuk lingkungannya dan libatkan masyarakat untuk menjadi pekerja atau pengelola atau penggarap dan mendapat upah yang layak. Inilah arah dan kebijakan yang akan kami tempuh," katanya.
Sementara itu, Kapolresta Bandung, Kombes Pol Aldi Subartono, menyatakan bahwa pihaknya telah bergerak cepat dalam menangani kasus perusakan yang mencakup Blok Bojong Waru, Cipicung I, dan Cipicung II.
"Kami sudah memeriksa beberapa saksi-saksi, sudah olah tempat kejadian perkara (TKP), dan sudah teridentifikasi orang-orang yang melakukan penebangan," ujar Kombes Pol Aldi Subartono pada Sabtu (29/11/2025) dilansir TribunJabar.ID.
"Kami akan mengejar orang yang mendanai atau sebagai donatur, yang memberikan uang kepada masyarakat untuk melakukan penebangan atau pengerusakan terhadap pohon-pohon teh ini," tegasnya, berdasarkan keterangan saksi yang menyebut adanya pembayaran kepada para perusak.
"Kita tahu ini tanamannya sudah 30 tahun, akarnya ini sudah sangat kuat. Sehingga kalau hujan deras, ini bisa menahan air."
"Nah, kalau nanti ini dialihkansikan, dibongkar, maka tidak menahan air hujan. Pangalengan bisa tenggelam," jelasnya.
Sekadar informasi, setidaknya sekitar 150 hektare lahan perkebunan teh dirusak di Pangalengan. Perusakan kebun teh di Pengelangan Bandung tersebut dilakukan dalam waktu periode 2024 hingga November 2025.
Perusakan itu dilakukan secara masif di beberapa lokasi berbeda, seperti di Blok Pahlawan, Blok Bojong Waru, Blok Cipicung I, Blok Cipicung II dan beberapa blok lainnya yang ada di sekitar Pangalengan.
Para oknum perusakan tersebut, melakukan pemotongan kepada pohon teh secara "kucing-kucing" dengan petugas. Yang mana, lahan gundul itu nantinya akan digunakan menjadi perkebunan sayuran. (*)